Sunday, 30 December 2012

Curahan Hati Anak-anak

Bismillah
source.devianart.com
“Cita-citanya pengen jadi apa?” 
“Barbie.”
Kami berusaha menahan tawa melihat kepolosan yang merebak halus dari bibir mungil Kaisa, salah satu peri kecil kami. Kaisa adalah peri kecil yang bersuara paling lembut, sangaaat lembut, apalagi kalau sedang membaca Iqro’.  

*******

Aku dan para peri berencana membuat sebuah film dokumenter tentang curahan hati mereka. Dan rencananya akan kami sampaikan kepada orang tua mereka masing-masing. Film singkat mengenai mimpi-mimpi dan hal-hal yang tidak bisa mereka sampaikan, misalnya: sesuatu yang tidak mereka senangi dari orang tua, sesuatu yang selalu dirindukan dari orang tua, dan beberapa patah kata cinta yang ingin sekali mereka sampaikan.

Wednesday, 26 December 2012

Hati...




Bismillah


Hati adalah pusat jiwa
Pusat gravitasi jiwa manusia
Sebuah kekuatan, yang menarik
Ke arah titik pusat kebaikan

Tidakkah kau dengar Ia berbisik?
Membimbing setiap tindak-tandukmu
Ia berbisik sangat lembut
Ia berbisik siang dan malam

Itulah radar kita
Yang mengaktifkan nilai-nilai kata
Dari yang dirasakan indah
Menjadi sesuatu yang nyata dan dijalani
Bukankah itu bukti Allah sangat dekat
Berbisik lewat hati bukan telinga
Menuntun menuju Asmaul Husna
Kebaikan bergelimang kebahagiaan

Hidup bermandikan masalah
Saat bisikan hati terabaikan
Saat kita menutup diri
Dari suara kebaikan yang samar

Maka marilah lepaskan ego
Dan membuang semua belenggu
Lalu dengarlah suara hati
Maka diri akan terus dekat dengan-Nya

Saturday, 22 December 2012

Friday, 21 December 2012

Inspirasi



Menulis...?

Beberapa hari ini pikiranku berhenti berputar ketika satu kata ini melintas. Kosong. Gamang. Mengapung-apung tak jelas. Aku benar-benar sedang di ambang kehampaan. Jemariku tak selincah dulu. Aku kehilangan gairah menulis. Aku kehilangan inspirasi.

Berhari-hari menatap layar kosong. Mencoba mengetik sesuatu tentang kenangan. Tentang putri cahaya. Tentang bianglala. Tentang pelangi. Tentang embun. Tentang angin lembut. Tentang jingga. Tentang peneduh-peneduh hariku yang lain. Tentang peri merah. Tentang mencit-mencitku. Tentang semua yang kurindukan. Tapi tidak bisa... Layar kosong tetap kosong. Putih. Hanya tertulis kata “bismillah”. Setelah itu aku hanya tertidur di depan laptop.

Thursday, 20 December 2012

Berani Bermimpi


Bismillah

Mimpi. Satu kata favoritku. Satu kata yang membuat kesuksesan tidak terjadi secara kebetulan. Satu kata yang mengawali rancangan kehidupan seseorang. Satu kata yang mampu memberi kekuatan luar biasa untuk menghadapi ketakutan-ketakutan akan masa depan.

Hihihi gambarnya lucu... Sumbergambar 
Pemuda sejati adalah jiwa yang tidak terpuruk akan masa lalu, tidak terikat dengan masa kini, dan tidak takut akan masa depan.
Dari masalah sekolah hingga masalah kehidupan yang nyata, mimpi dan cita-cita adalah langkah pertama dan terpenting yang harus diambil dalam semua proses kesuksesan. Ada tiga kunci utama tentang mimpi.

Wednesday, 21 November 2012

MIRUKU

Di sini terbaring: Miruku


Bismillah

Kehilangan, sekali lagi, menjelma begitu nyata. Sangat nyata hingga membuyarkan semua keping kenangan yang telah terekam begitu indah. Kehilangan, sekali lagi, membenturkan hati begitu keras. Memeriakkan pilu yang terus menusuk kedua pelupuk mata. Merasuk begitu halus, hingga bulir-bulir kehilangan ini tak hentinya berpacu deras, terus mengalir.

Hilang. Satu kata yang terlalu cepat menjemputmu. Tak peduli dengan usiamu yang masih sangat hijau. Tak peduli dengan tubuhmu yang masih sangat rapuh. Tak peduli dengan sedikitnya denting waktu kebersamaan kita. Meskipun itu adalah jalan terbaik untukmu dariNya. Lagi-lagi, terbentur dengan kuasaNya. Bahwa tak ada yang abadi selain Dia.

This entry was posted in

Sunday, 18 November 2012

Dekapan Ibu



Bismillah
             

            ...
“Tapi, bukankah sama saja seperti kupu-kupu yang dikurung di dalam toples? Kupu-kupu itu ingin terbang, melihat dunia! Tapi mengungkungnya terus? Justru itu akan membuat sayapnya bertambah rapuh, bukan?”

“Dengarkan dulu... Begini... Perumpamaannya... Hm, bagaimana, bila seorang ibu memeluk anaknya, lalu anak itu menolak atau menangkis pelukan ibunya? Apa yang kira-kira akan dilakukan sang ibu?”

Menatap langit biru di atas. Mencari jawaban di sela-sela awan putih yang berarak pilu. Akhirnya hanya bisa menerka asal saja.



“Hm... Tentu ibu itu sedih,”

“Iya... Tapi apa yang akan dilakukannya?”

Melirik dedaunan hijau yang bergemerisik damai, seolah mengharap ada bisikan jawaban. Menutup mata. Mencoba memvisualisasikannya sendiri. Apa yang akan dilakukan sang ibu? Ah, sama saja. Buntu.

“Bukankah ibu itu akan menambah, atau mempererat pelukannya, kan?”

Pemandangan itu akhirnya muncul di hadapanku. Ah iya, tentu saja. Semakin si anak mengelak, semakin bertambah kuat pelukan sang ibu.

"Lalu apa yang dirasakan si anak akhirnya? Merasa tertekan! Tapi bagaimana kalau sebaliknya... Bagaimana bila si anak akhirnya menurut, dan membalas pelukan ibunya?

Sang Ibu.... akan perlahan-lahan melepas dekapannya."

--20 Oktober 2012, di bawah langit yang merona biru.

Ya, ingatlah...
Kau baru bisa memperoleh kepercayaan itu, 
bila sudah membalas pelukan mereka...

Friday, 16 November 2012

Kelebat Masa Lalu..



Kelebat masa lalu...
Ketika kelebat masa lalu itu datang mengguyur... Seiring dengan rintik gerimis yang terdengar semakin merdu. Bertalu-talu, meggemburkan semua yang telah terkubur begitu lama.

Kelebat masa lalu...
Si aku terpekur sendiri. Mengingat ia di masa lalu. Betapa gelapnya masa lalu. Betapa jauhnya ia... Jauh, jauh, sangat jauh... dari cahaya. Hanya tenggelam bertemankan hura, nista, dan gulita.

Kelebat masa lalu...
Si aku membenamkan wajahnya semakin dalam. Mengingat ia di masa lalu. Tak henti meraba-raba dalam gelap, padahal ia tidak buta. Sunyi dan hampa tanpa simfoni kalamNya, padahal ia juga tidak tuli.

Kelebat masa lalu...
Si aku mulai terisak. Mengingat ia di masa lalu. Lidah yang terus berkoar penuh kemunafikan. Tak basah oleh lafadz asma-Nya. Tangan dan kaki yang mendzolimi hamba lain...


sumber gambar

Kelebat masa lalu...


Si aku tergugu. Hujan semakin deras di kedua pelupuk matanya. Menenggelamkannya, dalam syukur akan cahaya  Rabbnya saat ini...

Saturday, 10 November 2012

Liebster Award


Bismillah

Aturan main:
1. Tiap orang yang kena tag harus nulis 11 hal tentang dirinya. 
2. Jawab pertanyaan oleh orang yang nge-tag kamu.
3. Bikin 11 pertanyaan baru buat orang yang pingin kamu tag.
4. Cari 11 orang yang 'beruntung' itu, trus link-kan ke postinganmu.
5. Kasih tau mereka kalo mereka tuh 'beruntung' dapet award ini.
6. Dilarang tag balik.
***

Tanggal 8 November saya mendapat kutukan award ini dari kak Cahya. Saya sangat terharu, meski sebenarnya ini adalah satu PR yang sangat berat karena menjawabnya berarti harus sedikit  membongkar jati diri sendiri.

Sebenarnya dulu pernah dapat pertanyaan rantai 11 seperti ini di blog lama, tapi karena sudah terlanjur terhapus, yaa terpaksa buat lagi deh. 

--11 hal tentang diri sendiri--

Thursday, 8 November 2012

Cinta...


Bismillah

sumber gambar
Cinta adalah dua suap sendok madu di pagi hari dari tangan lembut mama.

Cinta adalah dua butir kapsul albumin yang disodorkan mama sebelum ke sekolah.

Cinta adalah sebotol susu kocok dingin buatan mama sebelum tidur.

Cinta adalah dekap erat mama yang hangat sebelum pergi praktek.

Cinta adalah kecupan manis mama di pipi setelah sholat Maghrib.

Cinta adalah belaian lembut mama saat ku berkicau riuh tentang tugas-tugas sekolah.

Cinta adalah seuntai kalung kesayangan milik mama yang jadi penghilang rinduku.

Cinta adalah tatapan sayu mama saat melihat anaknya terbaring sakit di tempat tidur.

Cinta adalah saat terdengar mama memanggilku, “klubi-klubi...”

Cinta adalah suara manja mama saat minta dipijit.

Cinta adalah pelukan mama yang siap menampung dan melebur seluruh tangis tumpah gelisahku.


Cinta ada... karena mama ada. Mama yang selalu ada untuk anak-anaknya.

Mama, mama, mama...
Aku cinta Mama karena Allah... 
Moga Mama disayang Allah... :)

Tuesday, 6 November 2012

Cobaan atau Teguran?



Bismillahirrohmaanirrohiim

Ketika seseorang sedang diuji terus-menerus dengan sakitnya atau cobaan-cobaan lainnya, sebenarnya di situlah orang itu harus mulai berkutat dan berbicara dengan dirinya sendiri.
“Seorang mukmin akan terus-menerus ditimpa ujian, hingga ia berjalan di muka bumi, tanpa membawa dosa sedikitpun.” [Rowaahu Ahmad]
Dari pesan mulia Rosululloh di atas, apa yang bisa disimpulkan? Alloh ingin mensucikan hamba-hambaNya, melebur dosa hamba-hambaNya, dengan cobaan-cobaan itu.

Monday, 5 November 2012

Jangan pergi...

hujan, jangan pergi...
Mendung bergumul pelan membayang.
Terpaan angin menelisik lembut.
Tetes demi tetes, gerimis tumpah.
Angin bertiup kencang, mulai murka.
Dedaunan bergoyang-goyang, pasrah.
Rintik hujan semakin merdu.

Thursday, 1 November 2012

Balon Jeruk



Bismillah


Di tengah rongsok bau melangkah elok
Tapak kaki tanpa alas mengukur waktu
Berbalut baju kaos putih tersayang
Celana pendek lusuh mengukir syukur
Tegar tersulut di bawah terik Raja Siang

Tentang Satu Pesan



Bismillah


Pada kemilau purnama enam belas Dzulhijjah
Pada tetes rindu hujan satu November
Pada semilir angin yang membelai nakal
Pada jingga yang merona dalam senja
Awan malu-malu berarak pelan menitip pesan

Tentang satu hari yang melejit dalam ingat
Tentang satu nama yang bersemi di taman rasa
Tentang satu goresan baru dalam lembar hidup
Tentang satu jengkal baru dalam rentang asa
Tentang satu hadiah, satu tangkai berpilin do’a


Semoga diberikan selalu kebarokahan dalam umur, selalu mendapat rohmat dan ampunanNya, selalu ditetapkan hatinya dalam keimanan hingga ajal menjemput, diberikan kesuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirot, serta bisa tercapai cita-citanya untuk bertemu Dia di surgaNya . Aamiin.

Selamat ulang tahun.

Wednesday, 31 October 2012

Maaf Teman-teman...



Bismillah.

Maaf teman-teman...
Untuk setiap detik kalian yang tersita percuma untukku.
Untuk setiap tenaga kalian yang terkerahkan untukku.

Maaf teman-teman...
Tidak bermaksud meremas tangan kalian sekuat itu.
Tidak bermaksud melampiaskan kesakitan pada kalian.

Maaf teman-teman...
Sekali lagi, telah merepotkan kalian hari ini.
Sekali lagi, telah menerbitkan banyak kekhawatiran hari ini.


Teruntuk El-Gladiente, aku sayang kalian.
Maaf karena selalu merepotkan kalian.
Aku bahagia punya kalian.
Terima kasih,
Semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Friday, 26 October 2012

"Nekad dan Tekad"


Bismillahirrohmaanirrohiim.

Maasyaa Allah. Hanya dua kata yang bisa kudeskripsikan tentangnya. “Nekad dan tekad”. Dan dua kata itulah yang membuatnya menjadi pangeran sejati. Pangeran sejati yang pemberani dan rela mengambil risiko. Hahaha. Dua kata itulah yang menjadi bekalnya melawan dan menumpas semua aral yang melintang menuju puncak tangga tertinggi menara istana Kerajaan Awan. Dua kata itulah yang menjadi bekalnya maju menghadap sang penjaga Putri Awan yang paling ditakuti Putri Awan sendiri—ayahnya.

Menghela napas sejenak. Mengingat-ngingat kembali—ada banyak bagian skenario-Nya yang mencengangkanku akhir-akhir ini. Banyak rentetan kejadian yang tak terduga. Mengapa? Kuasa Allah itu luar biasa. Allah selalu menjadi Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan do’a-do’a hambaNya. Dan hanya satu yang tidak bisa dilakukanNya. Apa itu? Menyalahi janjiNya sendiri. (^.^)

Siapa sangka? Di tengah badai yang sangat hebat, ada-ada saja rencana Allah. Tiba-tiba memekarkan sekuncup bunga harapan.



Monday, 15 October 2012

Rentetan TakdirNya yang Menakjubkan



Bismillah
Bertahan dan Lawanlah – 10 Oktober 2012

Titik-titik yang sama berdenyut-denyut
Tarikan napas yang terpatah-patah
Lemah bertambah-tambah mendekap erat
Bertahan dan lawanlah, ini hanya sementara

Ketidakberdayaan menghunjam sang raga
Kesadaran itu mulai berkutat melawan
Peluh dingin dan tangis berjatuhan
Bertahan dan lawanlah, ini hanya sementara

Mendekat, wajah-wajah tersayang mendekat
Mendekap, mereka mendekap sangat hangat
Menggenggam, mereka menggenggam dengan erat
Bertahan dan lawanlah, ini hanya sementara
               
Bertahan dan melawan.
Tapi yang bisa menguap hanyalah lemah. Sangat lemah...
Oh yaa Rabb, mungkinkah sudah tiba di hari penghujung?


Bahagia Itu Datang – 11 Oktober 2012

Hari yang baru, masih tergeletak dalam ruang biru
Namun lemah telah melepas dekapannya
Mulai meratap namun masih bisa berharap
Tak boleh diam dalam ketidakberdayaan
  
Bahagia, oh bahagia itu tetiba saja datang
Mimpi, oh mimpikah hamba, ya Rabb?
Cinta, oh cinta hamba bersambut
Manis, oh manisnya perangkapMu ya Rabb

Kepak sayap peri yang dinanti langit hati
Meluncur perlahan dalam arak sang awan
Juga kawan-kawan yang hinggap menghibur diri
Menerbitkan kembali hangat tawa dan semangat

Bahagia itu datang juga.
Tepat ketika telah tercapai titik minimum dari sebuah harapan untuk bertahan hidup.
Ternyata di balik semua itu,tersingkap perangkap manisMu, ya Rabb...

P.S: Berjuta syukur dan terima kasih untuk Peri Merah dan kawan-kawan,
yang telah mengajakku untuk menjemput sang bahagia.


Bangkit karena Rindu– 12 Oktober 2012

Rindu, aku rindu diterpa cahayaMu
Rindu, aku rindu melihat langit biruMu
Rindu, aku rindu merasakan kuasaMu
Rindu, aku rindu bersujud di hadapanMu

Bangkit, harus bisa bangkit
Tak boleh terus terpuruk dalam sakit
Kuat, harus bisa lebih kuat
Karena rindu padaNya tak henti berkutat

Ketika telah merasakan tak bisa menggerakkan sebatang tulang punggung pun untuk sholat, barulah seorang manusia disadarkan dan rindu untuk kembali bersujud di hadapanNya.

Nah, syukurilah semuanya sebelum terlambat...

*******

Sekian rentetan takdirNya untukku yang menakjubkan selama 3 hari tersebut. 
Walau diawali dengan perih, nyatanya ada kuasa dan takdir Allah yang indah sesudahnya... 

Hey, semoga esok langit tak terlalu biru.
Dengan begitu kalian akan merasakan kehadiranku kembali...
Hahaha...

Sunday, 7 October 2012

Kamu Bahagia, Tidak?


Bismillah


 “Apakah... Apakah kamu pernah merasa kesepian? Merasa sendiri?”

Pertanyaan yang aneh. Tidak, tentu saja tidak. Pikirku.
“Tidak... Mengapa bertanya seperti itu? Apa aku terlihat seperti itu? Merasa kesepian?”

“Hm... Kamu bahagia, tidak?” pertanyaan aneh meluncur lagi.

Aku tercekat. Entah mengapa itu pertanyaan yang tidak bisa langsung terjawab.
“Bahagia... Aku bahagia, dengan keberadaan orang-orang yang kucintai yang selalu ada di sisiku. Untukku.”  Itu bahagia, kan? Itu saja, apa tidak cukup?

“Ah... Tidak, hanya saja... Raut mukamu. Seolah banyak yang dipendam di sana. Seolah tidak ada kebahagiaan di sana.”

Hatiku mencelos. 

--Percakapan aneh di suatu senja yang hening.

sumber gambar di sini

Saturday, 6 October 2012

Sahabatku Guruku


Bismillah



Kawan, aku senang kau bisa hadir menemaniku tahun ini. Kau hebat karena bisa mengundang banyak kejadian aneh penuh hikmah dan tak terlupakan semenjak kita menghabiskan detik demi detik bersama. Setiap peristiwa yang datang mengisi satu detik dalam umurku menjadi sangat bermakna.

Thursday, 27 September 2012

Sunday, 23 September 2012

Jingga untuk Awan Putih

jingga untuk awan putih
"Hey, aku merasa kosong..."

"Hatimu?"

"Iya..."

"Bagaimana bisa? Bukankah aku selalu di sana?"

"Oh, mungkin aku yang meninggalkan hatiku."

"Kalau begitu kembali lah."

"Sayangnya mendung menutupi penglihatanku.
Hati itu sudah hilang terlalu jauh.
Maukah kau membantuku mencarinya?"

.......

"...Hey, sudah kutemukan kembali hatiku. Terima kasih..."

"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya kembali menjadi aku. 
Tanpa apa-apa. Aku hidup. Aku utuh. Untukmu. Itu saja..."

"Jingga untuk Awan Putih... Terima kasih."

"Bukankah selalu begitu? Kau hanya butuh waktu untuk melihatnya."

***


Monday, 17 September 2012

Selamat Jalan Pangeran Kecil


Bismillahirrohmaanirrohiim

Tahukah? Saat Sang Pemilik yang sesungguhnya merenggut kembali titipan yang ia berikan padamu, tak peduli betapa pun kamu mencintai titipan yang Dia berikan, kamu takkan kuasa mengelak dari kehendakNya. Lalu kita pun akan tersadar, seolah baru saja terbentur dinding tak kasat mata—bahwa ini memang bukan milik kita. Bukan kepunyaan kita. Dan dunia ternyata sangat tidak abadi, hanya Sang Penciptanya yang abadi.

Selamat jalan, Pangeran Kecilku... Mungkin pemilikmu yang sesungguhnya sudah terlalu rindu padamu. Kami tak dapat berbuat apa-apa. Pergilah dengan tersenyum riang, Pangeran Kecil... Sebagaimana kamu dulu riang berlarian ke sana kemari mengejar bola. Sebagaimana kamu dulu riang menjahili kakak-kakakmu. Sebagaimana kamu dulu tersenyum bahagia berada di antara orang-orang yang mencintaimu.

Jangan lupa, sampaikan kerinduan kakak padaNya.
Kau tahu? Langit malam ini bertaburan air mata melepasmu.
Hey, tersenyumlah. Karena semua sakitmu sudah dicabut...
ALLAH sungguh menyayangimu, My Dear Little Messi...



Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un...
Hafidh Ash-Shiddiq,
17 Sept 2012 M/ 1 Dh Qa’ida 1433 H

*******

Saturday, 15 September 2012

[Masih] Untuk Pangeran Kecil


Bismillaahirrohmaanirrohiim


“Hafidh, do’a malam ya, mau bobo...”  bisik sang mama di telingamu.

Kelopak mata itu mulai bergerak-gerak. Meski kesadaran belum membangunkanmu, namun sejumput harap di hati kami mulai bermekaran kembali.

***

“Allohumma adzhibil ba’saa robbannaasi wasyfi Hafidh Ash-Shiddiq, fa antas syafii laa syifaa-u illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughoodiru saqomaa...”  

Siang dan malam masih dengan bisikan harapan yang sama. Masih dengan mengeja nama yang sama. Masih dengan iringan rintik tangis yang sama.

Kamu terlihat begitu kecil di tengah deras cobaan yang sangat besar

Wednesday, 12 September 2012

Ya Allah, Sembuhkan Pangeran Kecilku


Bismillah

Kalian tahu apa yang terjadi ketika seseorang sedang berada dalam keadaan antara hidup dan matinya? Apa yang ruhnya sedang lakukan? Berjalan-jalan ke manakah ia? Bermain-main di mana? Ah... Allahu a’lam. Meskipun aku ingin sekali tahu... Tapi semua raut pikiranku tak lepas dari sesosok kecil yang terbaring tak sadarkan diri selama hampir tiga hari ini. Belalai-belalai infus dan selang oksigen dari tangan dan  hidungnya membuatnya terlihat begitu kecil untuk menghadapi cobaan ini... Mungkin setelah berdo’a lalu menuliskan semua di sini, bisa menguapkan kesedihan yang sudah tak mampu terbendung ini.

Namanya Hafidh Ash-Shiddiq. Nama yang indah...Tapi aku suka memanggilnya Pangeran Kecilku. 

Tuesday, 11 September 2012

Bilik Kosong



Bismillah


Dalam titik langkah yang terus berderap
Dalam tapak lari yang terus berderu
Dalam denting waktu yang terus memburu
Dalam lelah di setiap nafas yang terhenyak

                Ada terlalu banyak kesibukan yang tak henti menjerat
                Ada terlalu banyak ketergesaan yang tak henti menyesak
                Ada terlalu banyak kemelut rindu yang tak henti menghentak
                Jauh di dalam bilik kosong yang semakin tebal debunya

Bilik kosong itu jauh di dasar lembah kerinduan
Tak terguyur hujan tak tergapai cahaya
Tak tertiup angin tak bertemankan suara
Hanya hampa bermandikan buta dan gulita

                Bilik itu jauh terjebak dalam gemuruh rindu
                Rindu kembali ke hangat peluk Rabbnya
                Ia rindu rintik air mata ia rindu cahaya ilmu
                Ia rindu desir kekhusyukan ia rindu lantun kalam merdu

Hey bilik kecil kosong nan berdebu
Maaf terlalu lama meninggalkanmu dalam gelap
Terlalu lama membiarkanmu meraba-raba sendirian
 Karena aku pun sempat terjerat oleh dunia yang gemerlap

*******

“Allohumma laa taj’alid dunyaa akbaro hamminaa...”

Saturday, 1 September 2012

Awan Putih Untukmu


Bismillah

Awan Putih untukmu
Tahukah apa yang menghenyakkanku? Semua bait yang terurai dari derai lelahku. Tahukah apa yang menghempaskanku? Ketidakpastian dalam wilayah abu-abuku. Tahukah apa yang menikamku? Ketidakberdayaan dalam kelonggaran batasku. Tahukah apa yang menyayatku? Sebuah kebisuan dalam kicau riuhnya diriku.

Lihatlah, dengan atau tanpa kilau kepakanmu, aku tetap akan seperti ini. Seharusnya aku berterima kasih, dengan datangnya sebuah ketulusan nyata yang tak pernah dipinta. Yang menyadarkanku, membuyarkan setiap kehampaan yang telah bersarang lama di sini. Menerbitkan sekulum senyum yang terus-menerus bersemi hangat.

Kupikir gumpalan awan hitam yang dahulu belum berhenti menurunkan hujan di ladang hati itu. Kupikir dalam kosongmu, ia akan dengan mudahnya mengisi kekosongan itu. Kupikir dalam lemahmu, ia takkan berhenti mengubah haluan kepakan sayapmu. Namun, sedalam apa pun sebuah luka, ia juga akan tersamarkan oleh kilau beningnya hatimu. Aku yakin kau dengan mudahnya bisa mengalahkan selarik luka dengan nyala imanmu. Dan aku terkagum-kagum kau ternyata bisa melakukannya.

Monday, 27 August 2012

Hati yang Menyayangi Kalian karena Allah

Bismillaahirrohmaanirrohiim...


Dari Umar bin Khattab R.A pernah berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Dari sebagian hamba-hamba Allah, ada sejumlah orang yang bukan dari golongan Nabi dan golongan syuhada. Di hari kiamat nanti para nabi dan syuhada akan iri kepada mereka, karena tempat mereka (dekat) dari Allah Ta'ala.'

Para shahabat berkata, 'Ya Rasulullah! Beri kabar kami, siapakah mereka?'

Nabi SAW bersabda, 'Mereka kaum yang saling mencintai karena ruh Allah, bukan karena kerabat antara mereka, juga bukan karena harta yang mereka dapatkan. Demi Allah, wajah-wajah mereka niscaya bercahaya. Dan sungguh mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut; ketika orang-orang sama takut. Dan mereka tidak susah; ketika orang-orang sama susah.'
Dan Nabi SAW membaca ayat ini (QS. Yunus: 62): 'Ingatlah, sesungguhnya kekasih-kekasih Allah, tiada khawatir atas mereka, dan tiada susah mereka.'" [HR. Abu Dawud Juz 9 No. 3060]


“Hhh..!” ia dan aku terkesiap dengan gaya yang berlebihan. “Eh salah, harusnya assalaamu’alaikum, haduuh gimana sih...! Oh tidaaak—dibilang jangan cium tangan! Eh, minta kue dong... Hehehe...” itu candaannya yang paling kuhapal. ***

“Adeek...!” Sekitarku gelap. Oh, ternyata dalam sekejap aku sudah berada dalam dekapannya yang erat. Ah, aku seperti dipeluk oleh orang kesurupan. Hahaha, selalu begitu dalam setiap perjumpaan dengan yang satu ini. “Kak, kita baru dua hari tidak bertemu tapi sudah seperti tidak ketemu setahun...!” Namun pelukan itu selalu menjadi sesuatu yang kurindukan. ***

Matanya berbinar-binar dan wajahnya tampak bercahaya mengiringi langkahnya yang riang sambil memeluk Qur’an besarnya di dadanya. Lantas duduk menjeplak di hadapanku dan berkata, “Amal sholeh dong... Manqulkan... Keterangannya surah ini...” Lalu aku kaget—tapi tersenyum dan tiba-tiba ada sesuatu yang bermekaran indah di hatiku. ***

“Amal sholeh, saya titip ini... buat Anty...” kataku sambil menyerahkan sesuatu.

Dua pulpen istimewa berlilitkan benang untuk dua peneduh hariku
“Eh, Anty—mana Anty?”

“Bukaaan... Titip, titip...!”

“Ooh.. Titip.., Sip!” lalu tertegun melihat apa yang kuberikan.
“Siapa buat ini?” untuk pertama kalinya tersenyum dengan sebuah senyum yang belum pernah kulihat...seindah itu.

“Saya... Hehe... Amal sholeh, titip. Itu juga ada kubikin buat kau. Kan kalian mau pergi.”

“Pergi? Kau mau pergi ke mana?” tanyanya bingung.

“Haduuuh... Bukaaan... Kau kaan, yang mau pergi!” aku menepuk jidat. Parah nih, pendengarannya.

“OH... Saya! OH,.. oh...” teriaknya sambil menepuk jidat juga.
“Oke deh,  thank y—eh salah, alhamdulillah...Jazaa killahu khoiro...”

“Aamiiin...” jawabku riang lalu berbalik melesat pergi.

****


Teruntuk Para Peneduh Hari...

Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh wamaghfirotuh.

Bagaimana kabar kalian? Kabarku di sini baik-baik saja—sampai kalian pergi mengepakkan sayap-sayap kalian meninggalkanku di sini, bersama keping-keping kenangan yang berserakan.

Sunday, 26 August 2012

Berkutat

Saat tak mampu menuliskan kata dan huruf.


Hey peri (peneduh hari) yang sedang mengepakkan sayapnya di sana... 
Kuharap kau baik-baik saja dan selalu dalam lindunganNya...
-Dari seseorang yang masih berkutat dengan kenangan-kenangan... di sini-

Friday, 24 August 2012

Lagi, Serunai Perpisahan



Manis pahit kenangan kembali berkelebat
Indah bermekaran di taman memori yang lebat
Fikirku melayang ke masa yang telah lewat
Tentang banyak cerita di atas tugu nasib yang terpahat
Alangkah indah persaudaraan yang telah terikat
Hitam putih di atas lembaran kenangan yang terekat
Usia bertambah menjauhkan diri kecil yang dulu dekat
Dinding pemisah muncul perlahan tak terlihat
Desir pelan perlahan sirna samar tak tersirat
Impian tetiba berubah, ingin arungi ilmu di seberang yang tak dekat
Nelangsa terasa bagi sebuah hati yang telah lekat

Senyum kecil simetris ke kanan dan kiri itu jangan diubah
Hinggakan tindak-tanduk cuek namun bersemangat dan merambah
Oh, Saudaraku... Pergilah dengan senyum dan semangat yang tertumpah
Lengkungan pelangi menanti di penghujung tantangan yang bertambah
Engkau dengan perpisahan dalam takdir hidup tak usah resah
Hati saudari yang tertinggal kan mendo’akan dalam setiap langkah

(Teruntuk sahabat kecil yang telah memperkenalkanku
sebuah negeri bermandikan pelangi)

*******

Nyiur perpisahan kembali melambai
Untuk saudari seiman yang dicintai
Rengkuh tangis pelan dalam haru yang berderai

Hinggaplah rasa sedih yang tercurahkan
Ingin kembali ke masa yang telah terlewatkan
Dalam waktuNya yang indah di mana kita dijumpakan
Asa bertaut dalam satu do’a yang terpilinkan
Yang dirindu karenaNya semoga kelak kembali dipertemukan
Aduhai, walau raga tak selamanya dipersatukan
Namun hati jangan saling meninggalkan
Terekamnya keping kenangan dalam ingatan
Iringi setiap lembaran baru yang terhamparkan

(Teruntuk  tangan lembut yang menerbitkan sejumput semangat
dalam setiap mili pertemuan)

Wednesday, 22 August 2012

Duka di Negeri Bermandikan Pelangi




Bismillah

“Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Allohumma jurnaa fii mushiibatanaa, wakhluflanaa khoiromminhaa...”
                                                                                                                                       
Matahari pagi menjelang siang kala itu menyengat hangat. Membuatku yang berjalan pelan di halaman rumah mengernyit ketika sinar hangatnya merangkak perlahan melalui dua kelopak mataku. Aku tertegun. Tak kutemukan ia di sini. Kembali dua kakiku berlari-lari kecil menuju dapur dan halaman belakang. Ia juga tak ada di sini. Aku melangkah riang menuju ruang tunggu Rumah Sakit, tempat ia biasa bekerja...Oh itu dia di sana. Guru Periku—aku lebih suka memanggilnya begitu, yang setiap hari siap memberikan berjuntai-juntai ilmu dari 3 cabang ilmu yang utama:

Monday, 20 August 2012

Rindu yang Berhembus


Bismillah
"Dari sini rindu kukirimkan, mungkin tidak dengan denting suara pianomu
tapi dalam semilir angin lembut yang berembus dari dataran Eropa.
Aku merindukanmu. Sungguh :') "
--Iin Fadhilah Utami--

Rasanya baru kemarin kita yang kecil berkenalan dalam sebuah kekonyolan masa-masa tragis OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009. Ketika aku masih dengan raut wajah malu-malu menginjakkan kaki dalam sebuah ruangan aneh berisi orang-orang yang juga aneh—semuanya sibuk mencorat-coret kertas cakaran di hadapannya, mencoba mencari jawaban dari tiap soal yang diberikan oleh Sang Pembina (yang nampaknya kebapakan namun ternyata sedikit galak).

Merenungi Makna di Setiap Jejak

Bismillah
Hidup tidaklah hanya untuk mencari pencapaian jati diri, melainkan juga untuk merenungi makna di setiap jejaknya. Jejak yang telah terlukis tak akan sekedar menjadi bekas dalam setiap relung-relung memori di dalam kepala kita. Tak sekedar menjadi keping film kecil yang terekam abadi dalam sudut-sudut hati. Pun juga tak hanya menjadi penghias dalam lembaran-lembaran kenangan yang terekat rapi, melainkan lebih dari itu. Ya... Untuk direnungi makna dari setiap sentinya.

Indah tak dikata adalah saat mendapatkan anugerah dariNya berupa beribu laksa rasa yang tersingkap di balik gumpalan-gumpalan kisah dalam hari kemenangan kemarin...

merenungi makna di setiap jejak lembar kehidupan

Sunday, 12 August 2012

Binar Tawa, Sederhana Mengeja Bahagia (Angkatan 19 SMAN 17 Makassar)




Binar tawa, sederhana mengeja bahagia, dengan tawa itu cukup. Memendarkan kesedihan dengan tawa mungkin terlihat munafik, tapi ini cara memudarkan sedih, meski tak mungkin usai sedih ini. 

Binar tawa, sederhana mengeja bahagia. Ribuan alasan untukku membalas senyum dunia. Aku tahu makna berbahagia ketika sulit kurasa menyungging sesenti senyum dengan simetris ke kiri dan ke kanan.

Binar tawa, sederhana mengeja bahagia. Samudera yang luas bak permadani. Menyejukkan pandang sejauh pandang memendang. Hamparan biru dalam pantul awan. Panas mencekik napas. Kelas belakang bak Laskar Pelangi. Banyak alasan untuk bersyukur, walah sesekali kita lupa apa arti bersyukur sebelum rasa bahagia tersentil oleh pemilikNya.
Binar tawa, sederhana mengeja bahagia. Berburu dengan angin dan embun di butanya sang pagi. Mentari semerbak menebar hangat cahaya putih. Merah Putih berdiri angkuh menyilaukan tangguhku. Tabuh genderang berpalu mengiringi khidmatnya ritual senin. Slayer kuning yang siap menimang makhluk lemah pingsan kelaparan. Berdiri atau bangun sama saja, sama sama diharuskan maju ke depan, menghantam barisan.

Binar tawa, sederhana mengeja bahagia. Banyak cerita mengenai arti bahagia, namun aku tahu bahagia hanya denganmu Angkatan 19 SMA Negeri 17 Makassar. Manisnya hidup berseragam putih abu-abu kurasakan sudah. Tak rela sedikitpun melewatkannya. Akan banyak kisah dan kenang yang kita simpan rapat di album memori, layaknya benang kusut yang akan kita urai di kemudian hari.

--sahabat sekaligus saudari seperjuanganku, iin fadhilah--

Iin berpose menabur benih 

Tebar...tebar... Tumbuh yang besar yah~


Tertawa bersama saat panen tiba




Iin bersama Husna dan Fika, di halaman kelas belakang


Hahaha XD


Persahabatan empat kelingking


Tawa penghuni kelas belakang (Setahun lalu)

Friday, 10 August 2012

Thursday, 9 August 2012

Lilin yang Tak Padam


Lilin itu dinyalakan olehnya. 
Ia yang telah jauh sekali kukenal. 
Waktu telah mengantarkan diriku untuk tidak lagi melihatnya. 
Namun nyala api yang pernah disulutnya hingga kini tak pernah padam. 
Sekali pun, badai hatiku tak mampu meniup nyala api itu. 
Hujan batinku tak mampu memadamkan cahayanya. 
Hingga detik ini lilin itu tetap berdiri di hatiku dengan nyala kecil di atas sumbunya. 

Friday, 27 July 2012

Pertemuan


Bismillah


Apalagi hendak diucap, bila bumi terasa seolah berotasi lebih lambat. Apalagi hendak dikata, saat semuanya tampak elok nian di pelupuk mata. Apalagi hendak dicerca, saat semburat matahari siang tak lagi terasa menyengat. Itulah... Saat peri merah akhirnya hinggap kembali di  perbatasan istana bermandikan awan.

Seperti biasa, sang awan tak dapat meredupkan nyala kebahagiaan yang serta merta meletup-letup tak tertahankan dari dalam hatinya. Sudah sangat lama tak melihat kilau cahaya sang peri. Kilau cahaya yang mampu merebut semua pesona larikan cahaya matahari siang itu. Sang awan lalu berarak turun untuk menyambutnya...