Monday, 1 June 2020

Suicide Mission

Energi negatif ini semakin hari semakin menguasaiku.
Depresi itu datang kembali membuat gelap seluruh hari-hariku.
Ku tak ingin bicarakan ini pada siapapun.
Ku bukan orang yang bisa terbuka pada siapapun.
Telah ku coba mengusirnya dengan mendekatkan diri padaNya.
Selalu air mata ini tumpah tanpa pengharapan.
Aku selalu saja kalah ketika dicobaNya dengan diriku sendiri.
Obat-obat sementara tak dapat menolongku, demi janin yang sedang kukandung.
Apa yang sebenarnya kutakutkan?
Ujian kompetensi? Itukah? atau masa depan itu sendiri?
Takut karena semakin hari semakin mendekati jalan masa depan yang sebenarnya tak ingin ditempuh.
Ingin ku akhiri semuanya sesegera mungkin.
Padahal dulu aku penyintas Bipolar yang tangguh.
Depresi demi depresi dulu berusaha selalu kulewati.
Meski tertatih-tatih dalam pengobatan.
Tak ingin jatuh dalam hasrat akhiri hidup.
Apakah kali ini aku akan kalah?




Wednesday, 18 December 2019

Tentang Tidur

Jika anda ingin mensyukuri sesuatu, coba bersyukurlah dengan anda bisa tidur dengan normal, karena ada sekian banyak orang di dunia ini yang tidak bisa tidur dengan normal, bahkan ada yang beberapa harus meminum obat agar bisa tidur. Saya teringat dosen saya mengatakan, semua gangguan jiwa keluhan utamanya diawali dengan gangguan tidur. Setiap pasien yang datang ke seorang psikiater pasti pada awalnya hanya mengeluh dengan gangguan tidur. Setelah itu baru kemudian dokter menelaah apa etiologinya, apakah karena cemas, depresi, dan lain-lain.

Saya sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan gangguan tidur karena saya pikir itu memang siklus tidur saya yang memang hanya sedikit tidur, berhubung sejak sekolah menengah hingga kuliah kami dituntut belajar hingga larut malam. Hingga tiba saatnya saya mondok di sebuah pesantren di Jawa. Di saat itulah saya pertama kali mempertanyakan siklus tidur saya. Di saat santri lain sudah tertidur pulas jam 10 malam, saya hanya bisa memejamkan mata sambil membolak-balikkan badan sampai jam 2 malam. Agak aneh sebenarnya, karena suasana mondok yang begitu tenang, kami dibiasakan sholat malam dan menghafal hingga menjelang shubuh, tapi saya tetap tidak bisa tertidur sebelum jam 1 atau jam 2 malam. 

Sewaktu saya hamil pun saya pernah tidak tidur berhari-hari dan saya rasa saya hanya terlalu bahagia atau terlalu bersemangat atau mungkin karena khawatir menanti hari demi hari menjelang kelahirannya. Saya bahkan dengan sengaja membuat diri saya lelah dengan menyapu, mengepel, dan mencuci piring di tengah malam saat saya tinggal di rumah mertua saya, tapi tetap saja saya tidak bisa tertidur hingga shubuh. 

Setelah melahirkan pun saya jarang complain tentang tidur saya yang sedikit karena saya harus terjaga di malam hari dengan menyusui si kecil. Hingga usianya hampir menginjak 2 tahun, dan siklus tidurnya mulai teratur, giliran saya yang sulit memulai tidur. Saya pun mulai merasa terganggu dengan hal ini karena saya harus dinas di RS setiap pagi dan membutuhkan stamina yang prima. Saya sudah mencoba segala cara, membaca Quran, murojaah, sholat malam, tetap saja sulit untuk memulai tidur. Saya mulai menganggap siklus tidur saya sangat tidak normal setelah saya menghubungi seorang dokter psikiater yang saya kenal sangat dekat dengan ibu saya.

Alhamdulillah, 'alaa kulli hal, setelah menjalani terapi dengan beliau, saya mulai bisa tertidur dan mengalami siklus tidur yang normal seperti orang normal lainnya. Bahkan, saya tidak pernah lagi mengalami mimpi-mimpi buruk atau bahkan mengalami mimpi. Tidur saya jatuh hingga ke fase NREM (Non Rapid Eye Movement) stadium IV atau bahkan fase REM (Rapid Eye Movement), saya sulit untuk dibangunkan saking nyenyaknya. Tidur yang nyenyak sangat penting untuk serotoninergik, yaitu pembentukan serotonin dari asam amino triptofan, dan neurotransmitter serotonin ini sangat penting untuk mempertahankan perasaan bahagia, nafsu makan, gairah seks, dan kekurangan neurotransmitter ini menjadi penyebab utama pada orang-orang dengan depresi. 

Meskipun saat ini saya harus tertidur dengan minum obat terlebih dahulu, saya lega bahwa saya bisa mensyukuri, saya bisa tidur dengan nyenyak lagi, dan mengucapkan selamat tinggal terhadap insomnia yang telah menjadi teman setia selama bertahun-tahun. 

Saturday, 14 December 2019

Berada pada Frekuensi yang Sama



Dia sudah menjadi inspirasi saya sejak SMP untuk saya mencintai fisika. Dia salah satu peraih medali perak OSN Fisika Nasional saat itu. Dan dia yang pertama menyapa saya sewaktu hari pertama masuk kuliah kedokteran. Tetapi kemudian di akhir-akhir tahun preklinik hingga saya koass hilang kabarnya, dan ternyata setelah mendengar dari beberapa teman kelasnya, dia sudah memutuskan untuk berhenti--benar-benar berhenti dari dunia kedokteran. 

4 bulan terakhir ini banar-benar waktu yang berat menurut saya, di saat saya merasa sebagai seseorang yang terlahir SALAH karena saya harus mengalah dengan terapi dan menerima diagnosis itu. Tapi dia, yang telah didiagnosis hal yang sama dengan saya sejak 3 tahun yang lalu dan akhirnya mengambil keputusan yang sangat berani (meskipun sebenarnya saya sedih, karena tidak ada teman-teman dekatnya yang membantunya dalam masa sulit itu) akhirnya menjadi inspirasi saya lagi, untuk bangkit lagi.

Dia mengirimkan saya tulisan tentang masa-masa kelabu itu.

Tuan, perasaan sedih pasti kita alami. Saya tidak banyak menceritakan turbulensi yang menimpa saya kepada siapapun. Tapi saya ingin berbagi luka, biar kita bisa bertahan melewati malam-malam kesedihan yang rasanya begitu lama. 

Saya ingat itu, akhir tahun 2016 adalah kejatuhan saya. Depresi mayor, hubungan dengan orang tua memburuk, tugas kuliah menumpuk dan trauma-trauma masa lalu datang silih berganti, tiap malam memburu, jiwa ini membiru. Saya sangat membenci diri saya. Insomnia adalah sahabat setia.  

Perasaan tidak berguna dan tidak memiliki siapa-siapa. Sangat sulit mengungkapkan ke orang lain, meminta pertolongan, jika yang sakit pada dirimu, tak bisa ia lihat. Jika kita bronchitis, ada gejala-gejala seperti batuk demam, begitu juga saat patah tulang--nyeri hingga gambaran fisik tidak ada yang salah. Tidak ada perlukaan di sekujur tubuh. Tidak ada yang langsung terlihat dan membuat orang-orang di sekeliling ku sadar bahwa aku sedang sakit. Semua tersimpan di bawah topeng rutinitas. 

Saya bangga dan mendukung Tuan apabila berterus terang bahwa saat ini mengalami depresi atau gangguan mental lainnya. Langkah awal yang berani bisa mencegah hal-hal buruk terjadi.  Ketika saya dalam bayang-bayang itu, ketakutan masih merajalela dan perasaan ingin terlihat sempurna: mengaburkan penentuan keputusan. Semakin kau tolak, ia semakin besar. Tak pernah lampus, di situ saja ia berkumpul: bertumpuk terus-menerus. Hingga akhirnya saya memaksa diri mengungkapkan semuanya ke seorang kakak yang saya pertimbangkan akan paham dengan latar belakangnya sebagai dokter. Kemudian, atas inisiatif sendiri, saya menemui psikiater, lalu psikolog. Satu hal yang saya syukuri berkuliah di kedokteran adalah saat itu; dosen-dosen saya di blok neuropsikiatri selalu menanamkan untuk segera mencari bantuan profesional dan mengakhiri stigma. Orang dengan gangguan jiwa sering disebut gila, padahal kata ini begitu kejam dan pretensi menghakimi. Idiot, autis, dan gila adalah tiga kata yang selalu menjadi bumbu-bumbu dalam serapah dan lelucon kita. Sayangnya ketiga kata itu juga sering kita lekatkan pada ODGJ. Sehingga menyebabkan penderita dan keluarganya malu, menyalahkan diri, putus asa, dan enggan mencari bantuan. Ujung-ujungnya pemasungan. Silang pendapat biasa disaksikan di layar TV; mengapa seseorang begitu entengnya melabeli lawan debatnya yang memiliki pnadangan bersebrangan dengan sebutan "kamu gangguan mental!" Ya, stigma itu harus tercerabut dari akar-akarnya: dengan cangkul pengetahuan dan keberadaanmu sebagai manusia. Kita semua menghadapi keadaan stress. Siapa pun berpotensi mengalami gangguan mental, berat atau ringan. Jika hal itu mulai menghambatmu beraktivitas, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. 

Saat itu, saya begitu kecewa dengan teman-teman saya. Tak seorang pun yang mengulurkan tangan, kendati mereka tahu saya sudah tidak masuk kuliah seminggu lamanya. Di fakultas kami, perubahan demikian begitu mencolok. Namun ketika menghadiri kuliah lagi, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Beberapa hanya sekedar ingin tahu apa yang kulakukan selama itu. Bahkan ada yang membercandai "Kukira kau sudah menggantung diri." Tidak ada apa-apa yang bisa kulakukan selain memasang senyum saja (to be honest, my favourite word at the time was the big F.) Ketika sendiri lagi, saya hanya bisa menangis dan menyesali diri. ("Laki-laki tidak boleh menangis." Tuan, mereka tidak tahu bahwa menangis adalah salah satu mekanisme pertahanan diri yang mampu melepaskan hormon kebahagiaan dan mengaktivasi sistem neuron parasimpatik, hal yang memberikan efek santuy. Sampai kapan menelan mentah anjuran yang sudah lapuk?) Maafkan saya, tapi keadaan itu benar-benar menampar saya. Tapi saya berharap Tuan dikelilingi oleh teman-teman yang ringan tangan dan lebih berempati. Menurut saya, jika telah terpuruk oleh gangguan depresi, kita tidak hanya membutuhkan teman pendengar keluh-kesah, tetapi juga uluran tangan yang nyata. Ada yang salah padamu, bukan karena kau jauh dari Tuhan atau kesurupan jin, tetapi otakmu sedang menderita, apakah itu di tingkat gen, ketidakseimbangan proses kimiawi neurotransmitter, sel-sel mu yang bekerja di ruang kendali mood (suasana hati) butuh perawatan, atau jangan-jangan masalah dan orang-orang yang kau hadapi memang kutukan yang memuakkan.
.... 

 Di hari yang lain, dia mengirimkan chat pada saya lewat instagram saya.

Saya jujur ke teman-teman saya mengenai kondisi mental saya. Di depan saya mereka seakan-akan mendukung sehingga saya senang, tapi akhirnya saya tahu, dalam grup kecil mereka memperolok-olok saya, yang paling menyedihkan mereka menganggap saya sebagai psikopat. Ternyata kebenaran itu bisa sepahit itu. Tapi lebih baik kita tahu di atas apapun. Sepertinya, jika kau laki-laki di Indonesia, mental yang sakit tidak dianggap serius. Kalo ada uang dan kesempatan saya akan pindah. 

Saya belajar dari itu. Banyak hal, Disa. Misalnya, tentang edukasi mental issue. Ini sangat dipengaruhi oleh kepentingan. Jika suatu kelompok tidak interest, maka itu tidak akan pernah dianggap penting. Kecerdasan individu akan kalah dengan pilihan kesadaran kolektif, berlaku pada orang-orang yang ignorance.  Dan parahnya jika nilai-nilai itu terserap ke dalam kelompok tanpa kritik. 

Saya sangat sedih membacanya. Beberapa saat kemudian, dia mengirimkan chat lagi.

Saya tidak tahu sebut apa, sedih bercampur baur dengan rasa bersalah, marah, kasihan. Kesadaran yang muncul, saya tidak boleh mengandalkan orang-orang yang selama ini saya anggap dekat sebagai teman itu. Saya tidak akan memutuskan tali silaturahmi, cuma selanjutnya akan lebih berhati-hati dan mungkin saya akan belajar buku-buku how to blend it, yang sekedar siapa tau ada info penting yang bisa saya dapat dari mereka, tapi untuk hubungan friendship ideal ala Sokrates tidak akan saya usahakan lagi. Haha

Sepertinya kita harus siap menjadi diri kita seorang diri. Salah seorang dari mereka bilang, "kita tidak ada apa-apanya tanpa teman." Tapi seorang lagi di lain kesempatan bilang, "...bukan tidak menjadi apa-apa, tapi kita jadi tahu siapa diri kita sebenarnya." Tujuan jangka pendek saya saat ini, menguatkan mental saya. Yang saya alami bersama mereka bisa dianggap latihan atau senam, semoga otot-otot mentalku semakin kokoh.

Saya bisa merasakan tidak ada lagi kehangatan dalam tulisannya. Saya bisa merasakan betapa dia akan membangun sebuah wall besar terhadap dirinya dari orang-orang sekitarnya. Saya bisa merasakan betapa dia akan lebih memilih kedamaian dan ketenangan diri dengan memutuskan kontak sama sekali dari dunia luar. 


***

Inspirasi saya yang kedua adalah dia. Seseorang yang pertama kali dipertemukan dengan saya semenjak SMP saat mendapat penghargaan dari Walikota Makassar untuk nilai UN tertinggi se-Makassar saat itu. Kemudian saya dipertemukan lagi dengannya di SMA yang sama, dan fakultas yang sama, meskipun dia masuk 1 tahun setelah saya. Terakhir kali masa-masa perkoas-an saya dipertemukan dengannya saat dia di departemen Anak, dan setelah itu hilang kabarnya, hingga sebulan yang lalu kami akhirnya bertukar kabar lewat medsos dan kemarin dipertemukan kembali dalam sebuah pameran buku. Betapa bahagianya saya, melihat perubahannya yang telah memakai niqab dan jilbab hitam panjang.

Kami akhirnya kontrol di poli psikiatri bersama. Meskipun hanya bersama seorang residen, tapi itu adalah sesi psikoterapi yang menurut saya sangat memuaskan bagi saya. Hal yang paling berkesan menurut saya adalah—bagaimana mendengar ceritanya, bahwa dia, yang telah mengambil keputusan yang sangat berani—tidak kembali ke dunia per-koassan dan memilih mengikuti panggilan hatinya menjadi seorang guru. 

“Setiap orang memiliki lokus minoris nya masing-masing. Ada yang setelah 30 tahun, jantungnya yang bermasalah. Ada yang setelah 30 tahun, ginjalnya yang rusak, sehingga harus dihemodialisa. Ada yang setelah 30 tahun, depresi, karena amygdala di otaknya yang bermasalah. Dan semua itu hanya penyakit biasa. Bukan sesuatu yang mendefinisikan diri kita, jiwa kita. Jiwa kita jauh lebih luas daripada itu. Maka, janganlah kita men-STIGMA diri terlalu berat. 
"Saat serotonine turun, norepinephrine turun, bahkan dopamine turun juga, bagaiman kita bisa fokus belajar? Dan saat kita melakukan sesuatu yang tidak begitu kita sukai, dopamine akan semakin turun, bukan semakin naik. Maka cara kita untuk coping adalah dengan melakukan hal yang kita sukai, dengan mengisi jiwa kita. Semua hal baik yang kita lakukan sekecil apapun, misalnya kita mungkin mengisi jiwa kita dengan spiritual, dengan menghasilkan suatu karya misalnya dengan melukis, atau bahkan sekedar bertemu teman dan bercerita hingga tertawa bersama, semua itu mengisi kembali jiwa kita, maka dopamine akan naik.  
"Pernahkah kita sangat cinta dengan seseorang? Nah, coba cintai diri sendiri dulu sebesar rasa cinta kita dengan orang itu. Sudah waktunya kita melihat ke dalam diri kita dulu, sudah waktunya kita sayangi dan urus diri sendiri dulu. Bagaimana kita mau mencintai orang lain jika kita sendiri tidak mencintai diri kita? Cintai jiwa kita. Untuk apa kita melakukan sesuatu yang akan membuat jiwa kita sampai harus dikorbankan? Saya, sekarang sedang berbicara sama kamu, artinya jiwa saya yang berbicara dengan jiwamu. Bukan sama badan biologis atau tubuhmu. Kita berkumpul di sini, jiwa kita yang berbicara. Sulit lho, untuk melihat jiwa itu. Kita sampai harus melewati pencucian seperti ini dulu, ujian seperti ini dulu."


***

Inspirasi saya yang ketiga adalah dia. 

Sosok yang sangat menginspirasi dan saya selalu iri dengan gairah belajarnya semenjak sekelompok dengannya saat di Obgin. Sosok yang selalu muncul chat nya hampir tiap hari saat saya sedang melewati fase depresi terberat itu. Sosok yang tiap hari bertanya, "Disa, how are you? How's life? Are you okay?" Sosok yang bisa bertahan dengan kerasnya kehidupan preklinik dan klinik di kedokteran meskipun harus mengonsumsi 50 mg amitriptilin tiap hari di fase-fase depresinya. Sosok yang membuat saya merasa sangat related dengannya. Sosok yang bahkan saya tidak perlu berbicara dengannya dia sudah tahu apa yang ada dalam pikiran saya. 


***

Hidup dengan bipolar disorder memang tidak mudah. Jangankan pergi bekerja dan beraktivitas layaknya orang normal. Saat fase depresi itu datang, bangun dari tempat tidur pun kita harus berkelahi dengan diri sendiri. Butuh effort yang besar. Mungkin itulah yang mereka, dokter psikiatri sebut hendaya berat. Ketidakmampuan. Namun ada suatu masa di mana kita terbangun dengan sangat bergairah, sangat bersemangat, saking bersemangatnya hingga kita tidak butuh tidur. Kita bisa tetap terbangun dan fully energized

Hidup dengan bipolar disorder memang tidak mudah. Ada suatu masa ketika kita terbangun dalam keadaan emotionless, numb. Kita tidak bisa merasakan apa-apa. Hampa. Perasaan worthless. Tidak berharga. Tidak berguna. Sangat hina. Dan perasaan lebih baik mati yang begitu besar. Tidak lapar. Tidak ingin makan sama sekali. Tidak ingin bicara dengan siapapun. Ingin sendiri saja. Membangun wall besar dengan dunia luar. Tidak ingin dihubungi siapapun.  Namun ada suatu masa di mana kita terbangun dengan penuh percaya diri. Bersemangat. Hyper excited. Hyper energetic. Ingin melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Tidak bisa diam bertempat di satu tempat saja. Rasanya kepala ini penuh dengan bermacam ide. Milliaran mimpi yang cemerlang. Mungkin itu yang mereka sebut racing thoughts. 

Hidup dengan bipolar disorder sangat tidak mudah. Tetapi, setelah sekian lama saya menjalani terapi, medikasi, semuanya menjadi mungkin kembali. Saya bisa bangun dari tempat tidur lagi. Saya bisa beraktivitas layaknya orang normal, meskipun semuanya terjadi secara bertahap. Saya bisa merasakan gairah hidup lagi. Nafsu makan saya mulai membaik. Saya sudah bisa makan lagi. Saya bisa merasakan perasaan yang normal lagi. Saya bisa menerima nasehat-nasehat tentang agama lagi. Saya bisa beribadah lebih khusyuk lagi. Saya merasa perlahan-lahan menjadi orang normal lagi. 

Dan saya sangat bersyukur telah dipertemukan dengan mereka. Mereka yang menginspirasi saya. Orang-orang yang bisa, merasakan berbagai macam emosi dengan sangat dalam. Orang-orang yang memiliki kemampuan untuk merasakan emosi orang lain hanya dengan membaca wajah-wajah mereka. Orang-orang, yang tertawa dan berbicara, dengan frekuensi yang sama dengan saya. Orang-orang, yang beresonansi dan terkoneksi dengan kehidupan saya. Mereka, yang secara tidak langsung mengatakan, "You are not alone. We are vibrating in the same frequency." 

And I don't want to push away those beautiful person from my life, just because of the STIGMA.

Monday, 25 November 2019

Me and My Bipolar Disorder

I have been diagnosed with Bipolar in 23 (I'm 24 years old now) and I've never been diagnosed with any mental illness condition until I've been in a depressive phase--the worst depression episode. Before that episodes, I was in "mania phase,"like my psychiatrist says--at least 4 until 6 months in a year (almost every year I remember), I can't explain why I feel so energetic, so exciting all the time. I just can do what I want. I can play all the fast songs in my piano. I can memorize so many ayahs from Quran in a day. I can feel so exciting to study all the night until 2 am. I feel like racing thoughts in my head so I used to like writing on my blog or my diary. I can spend so much money for unexplained reason. I just can't stay at home for a long time and I love to go outside and hang out with my friends... and one thing that I hate so much in this phase, I just feel so moody or I want to angry all the time.

But for the next 4-6 months in a year, I just can't explain why I become like I don't have any energy. I always struggle to get out of my bed in every morning. I often face the reality that I don't have any confidence or any courage to face the day. It's just feels like the "bad days". I have to encourage my self to meet other people outside my home. I don't like being outside of my home. I don't like being anywhere that crowded of people. I sudden have got memory loss. I loss my appetite until I just eat 1 times a day, I'm not interested in playing the piano except the saddest and slowly songs. I pull out my self from making friends, and the worst part is sometimes just crying for no reason, and about feeling like hopeless, useless, or "I don't fit anywhere" or "I want to die, I can't through this anymore."

I never go to a psychiatrist until I have a lot of suicidal thoughts. I think it's time for me to seeking help, I just can't "mask" my face all the time. I've ever got my MMPI result in my 1st year of clinical course and I always deny that results. I just can't face my self of having any mental ilness like bipolar because I feel like myself just like a normal person. After a lot of suicidal thoughts, I just go to a psychiatrist's house who I believe can help me. I never speak for a long time to my parents, even my husband and my best friends about I got a medication therapy in psychiatric. I just can't let them face the truth that their daughters are "not normal" or "different"--because my sister has bipolar disorder too.

Now I can address this issue because I'm just feeling like so many people around me or around the world maybe like me. Maybe you just can't deny that "this world is not fair" or "why other people is always happy and people like us not"... but seeking for help or got a medication is not a weakness, and I'm here to listen too, because I've been there.

Wednesday, 16 August 2017

Catatan Dokter Muda: "Di Atas Normal."

Bismillah



Memulai melanjutkan kembali pendidikan profesi setelah menikah awalnya mungkin masih terasa sedikit horror bagi seorang house wife newbie seperti saya. Memikirkan bagaimana akan menjalani kesibukan demi kesibukan dinas dan jaga siang-malam di Rumah Sakit, belajar, sambil mengurus suami, dan bagaimana kalau ternyata sudah isi dan harus merasakan bagaimana beratnya hamil sambil menjalani pendidikan profesi.

Tetapi alhamdulillah 'alaa kulli hal, ternyata Dia memang tidak pernah membebani hambaNya kecuali atas kemampuan hambaNya. Ujian, cobaan, dan takdir apapun yang Dia hadiahkan untuk hambaNya pasti akan dengan mudah terlewati jika memang Dia yakin hambaNya mampu melewatinya. :"

Tidak terasa sudah melewati 3 stase pendidikan profesi. Stase pertama yang dilewati adalah bagian Neurologi (Saraf) dan menurut seseorang yang masih newbie dalam dunia perkoasan mungkin ini adalah bagian yang lumayan menantang, bikin gege (gaduh-gelisah), dan ternyata bertepatan dengan bulan Ramadhan dan hamil usia 2 bulan lagi. :" Rasanya masih terharu ternyata masih keluar dari bagian ini hidup-hidup, mengingat waktu itu sedang hamil muda dan terkadang masih didera morning sickness yang harus dilawan karena setelah sahur menjelang shubuh sudah harus ke Rumah Sakit untuk follow up pasien-pasien bangsal, dan dalam keadaan puasa pula. Keliling bangsal, dan untuk follow up 1 pasien Neuro itu tidak sebentar. Semua dinilai mulai dari rangsang menings, nervus cranialis, pergerakan, kekuatan, tonus otot, refleks fisiologis, refleks patologis, sensorik tiap dermatom, dan lucunya ini dilakukan untuk minimal 30 pasien dalam 1 bangsal. Tetapi terkadang terharu juga karena pasien-pasien Neuro merasa menjadi lebih diperhatikan oleh dokternya (padahal kami hanyalah dokter muda, bukan residen apalagi konsulen) dan tiga kata sederhana "Terima kasih, Dok" membuat kelelahan, kelaparan, haus, dahaga, dll saat itu terbayar begitu saja. :"

Stase kedua yang dilewati adalah bagian Kardiologi (Jantung) dan mungkin ini stase yang masih membuat saya sedikit gege. Anehnya sebagian besar teman-teman yang telah melewati stase ini selalu mengatakan "Santai kok, tidur terjamin, bisa selfi-selfian di gedung baru PJT (Pusat Jantung Terpadu)." --ternyata sangat berkebalikan. Pekan pertama saya mendapat dinas di poliklinik PJT yang ternyata pasiennya dalam sehari minimal 100an orang, dan pernah saat hari Jumat (tak terlupakan sekali) saat itu pasiennya dalam sehari 250 orang. Poli berasa pasar dari pagi buta hingga menjelang maghrib. Bahkan lucunya kami disuruh residen untuk membuatkan resep obat untuk pasien antrian selanjutnya dan selanjutnya (pasiennya belum masuk, resep obatnya udah ada. Nah lho wkwkwk). Dan entah mengapa setiap jaga siang/malam selalu dapat pasien baru yang bertubi-tubi, bahkan hampir tiap minggu dapat pasien code blue yang akhirnya meninggal. Tiap pagi-pagi buta sudah sibuk EKG semua pasien di IGD atau di bangsal, dan sebagai hasilnya benar-benar terlatih untuk menjadi "bumil yang tahan berdiri lama bahkan lari-lari ke sana kemari" (benar-benar berasa lupa kalau waktu itu lagi hamil, untung saja pas waktu stase itu ga pernah disuruh RJP).

Thanks cardio, bakal kangen sama pasien poli nya yang rame kayak pasar, bakal kangen sama para konsulen yang tidak sungkan-sungkan membagi ilmunya tiap beliau visite, bakal kangen sama residen-residen yang enak buat diajak diskusi, bakal kangen sama kakak-kakak perawat yang easy going dan enak diajak cerita, bakal kangen sama CVCU-nya yang sudah kayak rumah kedua semenjak nenek dirawat di sana (jadinya berasa dinas dan jaga siang-malam 7 kali 24 jam), banyak pengalaman berharga meskipun kayaknya agak gege tapi alhamdulillah happy ending.

Stase saat ini adalah Psikiatri (Jiwa), dan menurut saya ini stase yang paling mengajarkan makna kehidupan yang sebenarnya. Meskipun terkadang melihat hal-hal yang tidak manusiawi di RSJ seperti pasien mengamuk yang diikat keempat ekstremitasnya di tempat tidur dalam sel yang bau, penuh kotoran, dan makanan basi, tapi terkadang saya belajar banyak dari pasien-pasien di sini.

Betapa "kesabaran", menjadi "pendengar setia",dan "kepo" atau gila urusan menjadi bekal dan keharusan mutlak untuk jadi psikiater. Pernah suatu ketika pengalaman jaga malam, lanjut dinas, dan lanjut lagi jaga siang, unforgettable moment 24 jam genap jaga di IGD Jiwa, membuat diri ini harus larut dalam urusan rumah tangga orang, urusan perekonomian keluarga orang, mendengar segala tangisan dan curahan hati istri-istri yang belasan tahun tidak disentuh suaminya, anak-anak yang merasa ibunya mulai aneh-aneh, sampai mendengar ocehan pasien-pasien dari bisikan menerima wahyu, dikejar-dikejar setan, atau kemunculan kembali sosok mantan pacar di usianya yang sudah beranak-cucu dll.

Pernah suatu ketika pula, saat dinas pagi di salah satu bangsal di RSJ. Perempuan, usia paruh baya, mengaku nabi ke-26 dan diutus Tuhan untuk membangun Ka'bah di Pos Polisi Tello. Pasien ini afeknya tumpul banget, cerita tanpa ada perubahan ekspresi wajah sama sekali, kerutan-kerutan dahi saja tidak ada.


"Ibu bisa ki ceritakan dari mana ki dapat gelar nabi ke 26? Banyak mi kah pengikut ta?"
"Saya dengar suara-suara."
"Ada berapa suara bu?"
"2 orang." 
"2 orang... Laki-laki atau perempuan, bu?"
"Laki-laki. Menurut saya itu Nabi Muhammad dengan Sultan Hasanuddin yang kasih tahu saya itu nabi ke 26. Saya keliling-keliling mesjid sambil mengaji."
"Terus, itu Ka'bah yang katanya kita bangun di Tello itu di sebelah mananya bu?"
"Di pos polisi."
"Ha? Jadi Ka'bah sekarang sudah pindah di Pos polisi Tello bu? Siapa yang bangun ki itu di situ? Siapa yang kita suruh?"
"Walikota sama gubernur."
"Ooh... jadi kita' ini sudah berteman sama pak walikota dengan gubernur di'? Jadi tidak perlu mi orang jauh-jauh pergi haji bu, tinggal pergi di Tello saja?"
"Iya. Saya juga merasakan diri saya ini alam."
"Maksudnya bu????? Jadi kita ini matahari, pohon, begitu?"
"Iya, saya yang melahirkan matahari. Saya juga bisa tahu kalau sebentar lagi Makassar akan kena gempa."
"Hah? Jadi kita' yg melahirkan matahari???? Trus ibu, kapan ki terakhir mandi? Dalam seminggu ada ji 1 atau 2 kali kita' mandi???" (saya melirik ke arah jilbabnya yang sudah dikerumuni kecoa-kecoa kecil).
"Tidak. Saya dari lahir nda pernah mandi karena saya ini Wali."
"Hahhh??? Jadi karena kita' ini Wali jadi kita nda pernah mandi? Bagemana caranya Wali sm Nabi nda pernah mandi... Ibu, bukan ki orang Arab kayak Nabi, kenapa ki bilang diri ta ini Nabi ke 26."
"Karena saya juga turunan raja."
"Ohh....turunan raja apa ki?"
"Turunan raja Gowa." *sambil nulis-nulis sesuatu di kertas, yang sepertinya itu nama gelar raja Gowa, trus diikuti nama ibu itu, dan terakhir ditambahi 'Nabiyullah'.
"Ibu kenapa ki bilang kita ini Nabi, memangnya ada kah kelebihan ta?"
"Saya bisa baca penyakitnya orang." *dan mulailah si ibu menjelaskan penyakitnya tiap orang yang lewat di situ mulai dari perawat, pasien, sampe kita adek koass.
Duh... Udah deh, di iya in aja yahh....

Masih banyak lagi yang lucu-lucu dari pasien di sini. Ada yang memiliki waham bahwa dirinya adalah tuhan (dan dia menciptakan sendiri bahasa tuhan--ini yang disebut neologisme), ada yang memiliki waham bahwa kiamat sudah akan terjadi bahkan dia sudah sholat menghadap arah Timur, ada yang memiliki waham bahwa dirinya adalah intelijen Pak Presiden Jokowi, dan bahkan ada yang memiliki waham bahwa dirinya sudah mati tertembak jadi dia sampai sekarang beranggapan bahwa dirinya sedang hidup di dunia lain, dan masih banyak lagi.

Tetapi tidak sedikit juga pasien-pasien di sini yang membuat hati menjadi tidak enak tiap mendengar keluh kesah keluarganya atau pasien tersebut sendiri. Kebanyakan adalah istri-istri yang suaminya mabuk-mabukan, main perempuan, mengkonsumsi sabu-sabu, hingga akhirnya tidak sedikit dari mereka yang berkali-kali masuk RSJ dengan diagnosis episode depresi berat dengan gejala psikotik yang kemudian berkembang menjadi skizofrenia.


Mengutip salah satu tulisan seorang teman sejawat yang menginspirasi saya:
Bukan hanya sebatas itu, beberapa pasien di sana ada yang kemudian betul-betul tinggal dan hidup disana. Beberapa pasien yang sudah baik kondisi kejiwaannya kadang tidak memiliki nasib yang baik, banyak dari mereka yang tidak diterima lagi oleh keluarganya. Tentu mereka sangat ingin bisa kembali ke keluarga mereka, tapi mengeluh sepertinya bukan pilihan bagi mereka, mereka kemudian tinggal di sana untuk menjaga "rumah" mereka dan membantu menyembuhkan orang-orang yang "berkunjung" ke rumahnya.

Tak jarang mereka harus menyuapi, memandikan, bahkan mengurus kotoran pasien lain. Tidak ada gaji bulanan apa lagi tunjangan hari raya, semua dilakukan ikhlas. Hal yang sangat jarang lagi ditemukan pada masyarakat materialistik saat ini. Bila datang waktu makan, semua berbaris rapih. Sabar mengantri tidak ada yang saling mendahului untuk berebut makanan. Begitupun saat mandi dan waktu minum obat. Semua bisa bersabar untuk mengantri tanpa ada yang merasa ingin didahulukan dan diperlakukan spesial (apalagi sampai mengaku anak pejabat).

Masih banyak hal lain yang bisa dipelajari di sana. Pelajaran penting bagi kita yang merasa "normal" dari mereka yang sering kita pandang sebelah mata. Pelajaran tentang saling mengasihi, pelajaran tentang kesabaran, pelajaran tentang keikhlasan, yang rasanya semakin hari semakin jarang kita temui. Senang bisa belajar dari mereka yang telah menemukan inti kebahagiaan yang sesungguhnya adalah bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini dan mencoba terus bermanfaat untuk orang lain.