Wednesday, 6 September 2017

Telah Terijabah

Bismillah



Inilah saat di mana
 aku tak lagi sendiri berdiri di dalam senyap waktuNya
saat kugelar sajadahku dan engkau gelar sajadahmu
ketika kita berdiri bersama
diriku satu shaf di belakangmu, di sepenggal waktuNya yang mulia

Inilah saat di mana 
engkau berdo’a dan aku mengamini, di waktu segala do’a makbul
Inilah saat di mana
dirimu memercikkan air dingin ke wajahku 
saat ku enggan bangun 

Inilah saat di mana
aku bisa mendengar lantunan merdumu 
saat membaca kalamNya 
dengan lebih leluasa

Inilah saat di mana
kita saling menyimak hafalan yang lain 
di sela-sela waktuNya

Semuanya, telah terijabah olehNya...
Pangeranku yang sedang bertakhta 
saat ini,
di sisiku. 

Maha Suci Allah
Yang telah membuat semua
Selalu indah pada waktunya.


“Ketika langkah ini belum sampai pada batas penantian
Aku takkan pernah merasa bosan
Menemukan dimana saat tempat ada sambutan kebahagiaan
Bukan hanya sekedar mimpiku dibawah terik mentari

Barangkali waktu telah membuat sesuatu yang lebih indah
Dari perkiraanku
Dan itu kan kudapati
Nanti esok atau lusa”
--secuil catatan peri merah, 2012.

Wednesday, 16 August 2017

Catatan Dokter Muda: "Di Atas Normal."

Bismillah



Memulai melanjutkan kembali pendidikan profesi setelah menikah awalnya mungkin masih terasa sedikit horror bagi seorang house wife newbie seperti saya. Memikirkan bagaimana akan menjalani kesibukan demi kesibukan dinas dan jaga siang-malam di Rumah Sakit, belajar, sambil mengurus suami, dan bagaimana kalau ternyata sudah isi dan harus merasakan bagaimana beratnya hamil sambil menjalani pendidikan profesi.

Tetapi alhamdulillah 'alaa kulli hal, ternyata Dia memang tidak pernah membebani hambaNya kecuali atas kemampuan hambaNya. Ujian, cobaan, dan takdir apapun yang Dia hadiahkan untuk hambaNya pasti akan dengan mudah terlewati jika memang Dia yakin hambaNya mampu melewatinya. :"

Tidak terasa sudah melewati 3 stase pendidikan profesi. Stase pertama yang dilewati adalah bagian Neurologi (Saraf) dan menurut seseorang yang masih newbie dalam dunia perkoasan mungkin ini adalah bagian yang lumayan menantang, bikin gege (gaduh-gelisah), dan ternyata bertepatan dengan bulan Ramadhan dan hamil usia 2 bulan lagi. :" Rasanya masih terharu ternyata masih keluar dari bagian ini hidup-hidup, mengingat waktu itu sedang hamil muda dan terkadang masih didera morning sickness yang harus dilawan karena setelah sahur menjelang shubuh sudah harus ke Rumah Sakit untuk follow up pasien-pasien bangsal, dan dalam keadaan puasa pula. Keliling bangsal, dan untuk follow up 1 pasien Neuro itu tidak sebentar. Semua dinilai mulai dari rangsang menings, nervus cranialis, pergerakan, kekuatan, tonus otot, refleks fisiologis, refleks patologis, sensorik tiap dermatom, dan lucunya ini dilakukan untuk minimal 30 pasien dalam 1 bangsal. Tetapi terkadang terharu juga karena pasien-pasien Neuro merasa menjadi lebih diperhatikan oleh dokternya (padahal kami hanyalah dokter muda, bukan residen apalagi konsulen) dan tiga kata sederhana "Terima kasih, Dok" membuat kelelahan, kelaparan, haus, dahaga, dll saat itu terbayar begitu saja. :"

Stase kedua yang dilewati adalah bagian Kardiologi (Jantung) dan mungkin ini stase yang masih membuat saya sedikit gege. Anehnya sebagian besar teman-teman yang telah melewati stase ini selalu mengatakan "Santai kok, tidur terjamin, bisa selfi-selfian di gedung baru PJT (Pusat Jantung Terpadu)." --ternyata sangat berkebalikan. Pekan pertama saya mendapat dinas di poliklinik PJT yang ternyata pasiennya dalam sehari minimal 100an orang, dan pernah saat hari Jumat (tak terlupakan sekali) saat itu pasiennya dalam sehari 250 orang. Poli berasa pasar dari pagi buta hingga menjelang maghrib. Bahkan lucunya kami disuruh residen untuk membuatkan resep obat untuk pasien antrian selanjutnya dan selanjutnya (pasiennya belum masuk, resep obatnya udah ada. Nah lho wkwkwk). Dan entah mengapa setiap jaga siang/malam selalu dapat pasien baru yang bertubi-tubi, bahkan hampir tiap minggu dapat pasien code blue yang akhirnya meninggal. Tiap pagi-pagi buta sudah sibuk EKG semua pasien di IGD atau di bangsal, dan sebagai hasilnya benar-benar terlatih untuk menjadi "bumil yang tahan berdiri lama bahkan lari-lari ke sana kemari" (benar-benar berasa lupa kalau waktu itu lagi hamil, untung saja pas waktu stase itu ga pernah disuruh RJP).

Thanks cardio, bakal kangen sama pasien poli nya yang rame kayak pasar, bakal kangen sama para konsulen yang tidak sungkan-sungkan membagi ilmunya tiap beliau visite, bakal kangen sama residen-residen yang enak buat diajak diskusi, bakal kangen sama kakak-kakak perawat yang easy going dan enak diajak cerita, bakal kangen sama CVCU-nya yang sudah kayak rumah kedua semenjak nenek dirawat di sana (jadinya berasa dinas dan jaga siang-malam 7 kali 24 jam), banyak pengalaman berharga meskipun kayaknya agak gege tapi alhamdulillah happy ending.

Stase saat ini adalah Psikiatri (Jiwa), dan menurut saya ini stase yang paling mengajarkan makna kehidupan yang sebenarnya. Meskipun terkadang melihat hal-hal yang tidak manusiawi di RSJ seperti pasien mengamuk yang diikat keempat ekstremitasnya di tempat tidur dalam sel yang bau, penuh kotoran, dan makanan basi, tapi terkadang saya belajar banyak dari pasien-pasien di sini.

Betapa "kesabaran", menjadi "pendengar setia",dan "kepo" atau gila urusan menjadi bekal dan keharusan mutlak untuk jadi psikiater. Pernah suatu ketika pengalaman jaga malam, lanjut dinas, dan lanjut lagi jaga siang, unforgettable moment 24 jam genap jaga di IGD Jiwa, membuat diri ini harus larut dalam urusan rumah tangga orang, urusan perekonomian keluarga orang, mendengar segala tangisan dan curahan hati istri-istri yang belasan tahun tidak disentuh suaminya, anak-anak yang merasa ibunya mulai aneh-aneh, sampai mendengar ocehan pasien-pasien dari bisikan menerima wahyu, dikejar-dikejar setan, atau kemunculan kembali sosok mantan pacar di usianya yang sudah beranak-cucu dll.

Pernah suatu ketika pula, saat dinas pagi di salah satu bangsal di RSJ. Perempuan, usia paruh baya, mengaku nabi ke-26 dan diutus Tuhan untuk membangun Ka'bah di Pos Polisi Tello. Pasien ini afeknya tumpul banget, cerita tanpa ada perubahan ekspresi wajah sama sekali, kerutan-kerutan dahi saja tidak ada.


"Ibu bisa ki ceritakan dari mana ki dapat gelar nabi ke 26? Banyak mi kah pengikut ta?"
"Saya dengar suara-suara."
"Ada berapa suara bu?"
"2 orang." 
"2 orang... Laki-laki atau perempuan, bu?"
"Laki-laki. Menurut saya itu Nabi Muhammad dengan Sultan Hasanuddin yang kasih tahu saya itu nabi ke 26. Saya keliling-keliling mesjid sambil mengaji."
"Terus, itu Ka'bah yang katanya kita bangun di Tello itu di sebelah mananya bu?"
"Di pos polisi."
"Ha? Jadi Ka'bah sekarang sudah pindah di Pos polisi Tello bu? Siapa yang bangun ki itu di situ? Siapa yang kita suruh?"
"Walikota sama gubernur."
"Ooh... jadi kita' ini sudah berteman sama pak walikota dengan gubernur di'? Jadi tidak perlu mi orang jauh-jauh pergi haji bu, tinggal pergi di Tello saja?"
"Iya. Saya juga merasakan diri saya ini alam."
"Maksudnya bu????? Jadi kita ini matahari, pohon, begitu?"
"Iya, saya yang melahirkan matahari. Saya juga bisa tahu kalau sebentar lagi Makassar akan kena gempa."
"Hah? Jadi kita' yg melahirkan matahari???? Trus ibu, kapan ki terakhir mandi? Dalam seminggu ada ji 1 atau 2 kali kita' mandi???" (saya melirik ke arah jilbabnya yang sudah dikerumuni kecoa-kecoa kecil).
"Tidak. Saya dari lahir nda pernah mandi karena saya ini Wali."
"Hahhh??? Jadi karena kita' ini Wali jadi kita nda pernah mandi? Bagemana caranya Wali sm Nabi nda pernah mandi... Ibu, bukan ki orang Arab kayak Nabi, kenapa ki bilang diri ta ini Nabi ke 26."
"Karena saya juga turunan raja."
"Ohh....turunan raja apa ki?"
"Turunan raja Gowa." *sambil nulis-nulis sesuatu di kertas, yang sepertinya itu nama gelar raja Gowa, trus diikuti nama ibu itu, dan terakhir ditambahi 'Nabiyullah'.
"Ibu kenapa ki bilang kita ini Nabi, memangnya ada kah kelebihan ta?"
"Saya bisa baca penyakitnya orang." *dan mulailah si ibu menjelaskan penyakitnya tiap orang yang lewat di situ mulai dari perawat, pasien, sampe kita adek koass.
Duh... Udah deh, di iya in aja yahh....

Masih banyak lagi yang lucu-lucu dari pasien di sini. Ada yang memiliki waham bahwa dirinya adalah tuhan (dan dia menciptakan sendiri bahasa tuhan--ini yang disebut neologisme), ada yang memiliki waham bahwa kiamat sudah akan terjadi bahkan dia sudah sholat menghadap arah Timur, ada yang memiliki waham bahwa dirinya adalah intelijen Pak Presiden Jokowi, dan bahkan ada yang memiliki waham bahwa dirinya sudah mati tertembak jadi dia sampai sekarang beranggapan bahwa dirinya sedang hidup di dunia lain, dan masih banyak lagi.

Tetapi tidak sedikit juga pasien-pasien di sini yang membuat hati menjadi tidak enak tiap mendengar keluh kesah keluarganya atau pasien tersebut sendiri. Kebanyakan adalah istri-istri yang suaminya mabuk-mabukan, main perempuan, mengkonsumsi sabu-sabu, hingga akhirnya tidak sedikit dari mereka yang berkali-kali masuk RSJ dengan diagnosis episode depresi berat dengan gejala psikotik yang kemudian berkembang menjadi skizofrenia.


Mengutip salah satu tulisan seorang teman sejawat yang menginspirasi saya:
Bukan hanya sebatas itu, beberapa pasien di sana ada yang kemudian betul-betul tinggal dan hidup disana. Beberapa pasien yang sudah baik kondisi kejiwaannya kadang tidak memiliki nasib yang baik, banyak dari mereka yang tidak diterima lagi oleh keluarganya. Tentu mereka sangat ingin bisa kembali ke keluarga mereka, tapi mengeluh sepertinya bukan pilihan bagi mereka, mereka kemudian tinggal di sana untuk menjaga "rumah" mereka dan membantu menyembuhkan orang-orang yang "berkunjung" ke rumahnya.

Tak jarang mereka harus menyuapi, memandikan, bahkan mengurus kotoran pasien lain. Tidak ada gaji bulanan apa lagi tunjangan hari raya, semua dilakukan ikhlas. Hal yang sangat jarang lagi ditemukan pada masyarakat materialistik saat ini. Bila datang waktu makan, semua berbaris rapih. Sabar mengantri tidak ada yang saling mendahului untuk berebut makanan. Begitupun saat mandi dan waktu minum obat. Semua bisa bersabar untuk mengantri tanpa ada yang merasa ingin didahulukan dan diperlakukan spesial (apalagi sampai mengaku anak pejabat).

Masih banyak hal lain yang bisa dipelajari di sana. Pelajaran penting bagi kita yang merasa "normal" dari mereka yang sering kita pandang sebelah mata. Pelajaran tentang saling mengasihi, pelajaran tentang kesabaran, pelajaran tentang keikhlasan, yang rasanya semakin hari semakin jarang kita temui. Senang bisa belajar dari mereka yang telah menemukan inti kebahagiaan yang sesungguhnya adalah bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini dan mencoba terus bermanfaat untuk orang lain.

Tuesday, 18 April 2017

Hari ini, Pangeran untuk Awan Putih

Bismillah





Hari ini, ketika awan putih terbangun dengan degup jantung berpacu bersama denting waktu yang berlalu. Hari ini, ketika jemari yang dingin mulai menghangat di singgasana penantian. Hari ini, ketika berpasang mata dan lekuk senyum dipersembahkan pada awan putih, dan beratus-ratus pasang langkah menemani sang pangeran menjemput awan putih di singgasananya.



How does a moment last forever?
How can a story never die?
It is love we must hold on to
Never easy, but we try



Hari ini, ketika awan putih terhenyak dalam tangis mendengar lantunan kalamNya yang dipersembahkan oleh ayahanda dan ibunda sendiri. Hari ini, ketika awan putih akhirnya terjebak dalam haru mendengar ijab qabul akhirnya dilafadzkan dengan diawali lantunan kalamNya oleh sang pangeran. Hari ini, ketika awan putih akhirnya merona dalam desah penuh kelegaan. 




Sometimes our happiness is captured
Somehow, our time and place stand still
Love lives on inside our hearts and always will


Lihatlah betapa banyak senyum yang mengiringi cinta kita. Dengarlah betapa banyak doa yang diaminkan untuk kebahagiaan kita. Ketika cinta kita hari ini genap sebagai ibadah penyempurna iman. 





How does a moment last forever?
How does our happiness endure?
Through the darkest of our troubles
Love is beauty, love is pure
Love pays no mind to desolation
It flows like a river through the soul
Protects, persists, and perseveres
And makes us whole

Hari ini, ketika cinta kita terabadikan di bawah langit cintaNya. Hari ini, ketika akhirnya aku dan kamu menjadi kita. Melangkah bersama dalam kehidupan yang baru. Menggurat asa menggiring sang awan, bersama melintas batas antara angan dan nyata. 






Minutes turn to hours, days to years then gone
But when all else has been forgotten
Still our song lives on
That's how a moment lasts forever
When our song lives on



Subhanallah, Maasyaa Allah, Alhamdulillah. Wahai pangeranku yang telah menggenapkan dien nya bersamaku, jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu dariku. Mari membentuk keluarga kecil kita yang sakinah, mawaddah wa rahmah, selamanya. Aamiin.







Makassar, 16 April 2017
For the one and only, my prince
Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika 
wa jama'a baynakumaa fii khoyr

*) This poem was originally a song "How Does a Moment Lasts Forever"
Beauty and the Beast original soundtrack

Monday, 10 April 2017

Tentang Aku, Pondok Tahfiz, dan Kamu.


Bismillah


1...2...3...4...5. Lima Juz. Tiap hari kami menghitung dan menghitung. Menunaikan kewajiban santri untuk memurojaah minimal 5 juz dalam sehari. Tak pernah terbayangkan dalam benak kami sebelumnya. Kehidupan gemerlap duniawi di luar pasti akan sulit bagi kami untuk menyempatkan diri murojaah hafalan paling sedikit 5 juz dalam sehari.

Jadwal yang padat memaksa kami agar tidak boleh sakit sedikitpun dalam program ini. Kalau tidak, kami bisa menanggung hutang hafalan dan murojaah yang semakin menumpuk. Jam 2 adalah jam bangun tidur dan mandi untuk kami. Terkadang harus memaksa mata ini melek sementara malamnya baru bisa tertidur jam 12 malam. Bukan insomnia, tapi mungkin karena jam 12 malam sudah menjadi jam tidur biologis yang sulit untuk diubah.

Terkadang aku merasa minder dengan santriwati lainnya di sini. Mereka semua berasal dari pondok pesantren, mereka semua adalah mubalighot, yang sudah pernah merasakan pahit manisnya bertugas di kampung orang, yang sudah pernah merasakan asam asinnya kehidupan pesantren semenjak kecil. Sementara aku hanyalah seorang mahasiswi biasa, bukan seorang mubalighot. Berlatar belakang pendidikan formal sampai lulus menjadi sarjana. Belum pernah merasakan pahit manisnya kehidupan di pesantren. Dan tentu saja, sudah terbiasa bahkan bosan, mencicipi gemerlapnya dunia luar.

Terkadang aku merasa aneh, dapat diterima dan diluluskan di program itu. Ketika lulus dan orang tua sempat tak mengizinkan, entahlah, hati ini sedih sekali. Sempat 1 pekan tidak pulang ke rumah, menyibukkan diri di kampus dengan alasan sibuk mengurus berkas yudisium. Keharusan untuk melanjutkan pendidikan profesi dokter dan keterbatasan selang waktu untuk cuti yang diberikan oleh pihak pendidikan rumah sakit menjadi alasan yang kuat bagi orang tua untuk tak mengizini.

Namun, akhirnya aku diberi izin dengan syarat hanya boleh mengikuti setengah dari 1 tahun saja dari keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk program itu. Alhamdulillah, akhirnya aku dan orang tua bisa berdamai lagi.

Namun baru 2 bulan berjalan.
Ada kabar dan perintah yang mengejutkan dari orang tua di rumah.
Aku harus pulang dan segera mengundurkan diri dari program itu.
Aku memohon dengan sangat agar bisa kembali 1 kali saja untuk ikhtibar, ujian pertama dan terakhir di hadapan para Syaikh kami.



Tiba hari ikhtibar.
Usai ikhtibar, ketua yayasan mengumumkan nilai dan peringkat yang kami peroleh satu persatu.
.
.
Di sinilah aku. Hanya bisa menangis mendengar beliau menyebut namaku di peringkat pertama dengan nilai mumtaaz 100. Tak dapat kubayangkan harus menghadap beliau sebentar lagi untuk mengajukan surat pengunduran diri setelah pengumuman ikhtibar pertama itu.
.
.
Di sinilah aku. Akhirnya pulang, kembali mencium udara hangat di langit Makassar sembari  menghela napas menenangkan diri. 2 bulan yang sangat singkat itu takkan kulupakan sebagai pengalaman berharga. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan menjadi seorang mubalighot dan hafizhah yang sempurna seperti impianku dahulu. Mungkin aku tidak bisa menjadi seperti mereka, para peri yang sangat sempurna, yang hidupnya tak pernah lepas dari sabilillah.
.
.
Beberapa hari berlalu. Kejutan dariNya tiba-tiba datang begitu saja. Kesedihanku terhapuskan bagaikan hujan membasahi debu di atas bebatuan. Kejutan dariNya melalui dia. Dia yang semoga kelak dapat membimbingku lebih baik di jalanNya, meski tidak dengan menjadi seorang mubalighot dan hafizhah yang sempurna. Membimbingku menjadi seorang pendamping hidup yang sholihah, yang akan mengisi hari-hariku dengan lantunan kalamNya dan sunnah nabiNya. Dia yang namanya terselip dalam doa di sepertiga malamNya. Dia yang namanya sudah 5 tahun terkubur di halaman yang bermandikan awan putih ini.
.
.
Tidak hentinya aku merengkuh dalam sujud syukur padaNya. Memberiku kejutan melalui jalan takdir yang lebih baik. Menghapus sendu dan menggantinya dengan rona merah.
.
.
6 hari lagi menuju hari bahagia itu.
Semoga semuanya berjalan dengan lancar.
Mungkin ini memang kehendakNya.
Ridho menjalani takdirNya adalah sebuah anugerah.
Karena terkadang, Dia memberikan apa yang kita butuhkan,
bukan apa yang kita inginkan.

Sidoarjo-Makassar, 10 April 2017
Dari hambaNya yang merona
dalam melangkah di jalan yang diridhoiNya

Saturday, 8 April 2017

Friday, 19 August 2016

Tentang Dirimu, Gunung, Langit, dan Fajar.

Bismillah


Kali ini ingin menulis tentangnya. Tentang dirinya yang selalu membersamai langkah kurang lebih sejak 1.095 hari yang lalu. Sejak pertemuan pertama yang seketika itu langsung dipeluknya. Sejak riuh gaduhnya zaman maba hingga sekarang di zaman mahasiswa tingkat akhir. Dia yang selalu berarak bersama awan melintas batas antara angan dan nyata. Menghenyakkan rasa dalam heningnya serupa malam membenamkan raga dalam lelapnya.


Kisah kali ini bukan pertama kali dirinya mengorbankan waktunya. Entah berapa kali terjaga di malam hari mengerjakan mading bersama, mengerjakan karya tulis ilmiah untuk lomba (yang sebenarnya 90 persennya dia yang kerja), entah berapa kali terjaga di malam hari untuk belajar bersama (yang sebenarnya diriku 70 persen tertidur ketimbang belajarnya), ikut liqo bersama, ikut ngaji di masjid dan...entah berapa kali dirinya mau menjadi ojek pribadi kemana saja dan kapan saja.

Mungkin bagian yang terakhir itu yang paling istimewa darinya. Dia itu cewek strong yang berani mengantar orang pulang malam-malam, di kota maupun di desa, ataupun melewati hutan-hutan, atau bahkan naik motor dari kota hingga ke gunung.


Suatu sore yang cerah tanggal 30 Juli 2016 di posko kelurahan Sumpang Binangae kabupaten Barru, si awan datang mendadak dan mendesaknya mengantar ke desa Bacu-bacu kecamatan Pujananting kabupaten Barru. Pokoknya harus pergi secepatnya, tidak bisa tidak. Urusan pekerjaan, biasa. Si awan terus menerus mendesak. Akhirnya dia mengalah dan kami memutuskan berangkat dari poskonya pukul 16.00. Cukup jauh perjalanan dari kota hingga ke batas kecamatan Pujananting, memakan waktu mungkin sekitar 40 menit. 

Kami tak hentinya menatap sekeliling dan berbisik Maasyaa Allah. Sawah-sawah dan bukit-bukit semakin jauh di bawah kami, berganti pemandangan pegunungan. Jalanan yang ditempuh semakin berkelok tiada habisnya. Kami mulai merapatkan rompi dan jaket. Angin dingin mulai merasuk hingga ke tulang. Jalanan yang kami lewati pun mulai berganti-ganti, dari jalanan aspal menjadi jalanan beton kasar hingga jalanan berbatu. Kami mulai menghela napas ketika tiba di jalanan berbatu-batu yang kadang terjal menurun kadang pula menanjak curam. Jika tidak berhati-hati mungkin bisa saja fraktur tulang belakang. Menyerah dengan guncangan jalanannya, aku memutuskan turun dari motor dan membantunya mendorong motor dari belakang. Ada mungkin sekitar 3 kali motornya kandas di tanjakan berbatu-batu itu. 

Ketika kami tiba di posko desa Bacu-bacu, matahari nyaris terbenam dan akhirnya kami memutuskan menginap melihat jalanan mengerikan tadi yang tidak mungkin dilewati kalau pulang larut malam. 



Malam yang indah di Bacu-bacu, langit bercahaya dengan kemilau bintang. Meskipun dinginnya tak terbantahkan, merasuk hingga ke tulang, yang akhirnya kami harus merapatkan selimut pinjaman dari koordes Bacu-bacu. 

Esok harinya usai sholat shubuh kami memutuskan jalan-jalan bersama 2 orang teman kami dari posko desa Bacu-bacu, atau lebih tepatnya mendaki, padahal perut masih kosong yahh .__. Beberapa lama kemudian dengan napas sedikit ngos-ngosan kami sampai di puncak bukit dekat gunung Coppo Tille, yang kabarnya adalah gunung tertinggi di kabupaten itu. Semua kelelahan dan hawa dingin yang merasuk terbayarkan oleh rasa syukur yang menyeruak hangat melihat panorama dari kanvasNya yang sungguh nyata indahnya di hadapan kami. Maasyaa Allah.










Jazaakillahu khoiro Tam, untuk... Semua ketulusan yang selalu menyeruak di sela-sela waktuNya. Tenaga dan waktu berharga yang selalu kamu korbankan untuk orang paling merepotkan sedunia ini. Dan kesempatan untuk mengenal dan menghabiskan waktu bersamamu.

31 Juli 2016
Catatan awan kecil
di hadapan panorama Gunung Coppo Tille, Barru













Thursday, 18 August 2016

Tentang Dirimu, Pesisir, Pulau, dan Ombak.

Bismillah



Kali ini aku ingin menulis tentangnya. Tentang dia yang menjadi alasan seseorang akan melupakan luka dan sepinya. Tentang dia yang selalu menghentak-hentakkan rasa dengan binarnya. Dia yang saban hari menukar sepi bersenda gurau dengan pesisir. Menerbangkan rasa menculik sang awan. Menggugurkan rindu serupa desir angin menggoyang dedaun. 

Suatu hari yang cerah di desa Lampoko kecamatan Balusu kabupaten Barru, kala mentari menggelincir di atas kepala dan awan sedang berarak dengan sepinya, ia datang menculik sang awan ke sebuah tempat yang indah. Ke suatu tempat di mana langit dan laut bertemu dalam kanvasNya yang nyata. Sang awan yang telah terlalu sering melihat gunung dan sungai kala itu bersorak riang dalam relung jiwanya. Dermaga Bawasaloe, Desa Lampoko. Akhirnya bisa melihat laut lagi.



Kami sendirian kala itu tanpa ditemankan seorang asing pun di seluruh penjuru pantai dan sepanjang dermaga. Menikmati bisikan angin yang melambai nakal di jilbab kami. Menikmati desir pasang yang membasahi telapak kaki kami. Menertawakan sepi melupakan luka dalam balutan ukhuwah.


Di dekapan waktu yang lain ia kembali menculik sang awan. Menjemputnya dari kejenuhan dan kelelahan. Matahari nyaris kembali ke peraduannya kala itu. Bersama, mengejar perahu terakhir menuju pulau seberang. Tertawa dalam desingan ombak yang terpecah oleh mesin si perahu. Menjejakkan bahagia di atas dermaga sembari bersorak riang kepada siapa pun yang dikenal. Tibalah kami di Pulau Dutungan. Berlari menjejak pasir putih dan memanjat bahagia di atas terumbu karang. Mengabadikan jernihnya biru laut kala beradu dengan semburat jingga sang mentari. Mengabadikan lekuk senyum dan indahnya pelukan ukhuwah di hadapan kanvas superbesarNya.








Terima kasih, Dian. Ya, aku memanggilnya Dian. Hanya Dian. Bukan pelangi, angin lembut, jingga, ataupun putri cahaya seperti yang lainnya. Sederhana, sesederhana aku menyayanginya. Uhibbuki fillah ukhti :)