Thursday, 12 December 2013

Friday, 1 November 2013

Sunday, 23 June 2013

MendengarMu Berbicara

Bismillah



Teruntuk Sang Maha Merindu

Telah jatuh bangun hamba
Berkutat dengan deret huruf ini
Tuntaskan asa
Tuk hafal kalamMu
Menutup mata dua telinga
Memerangkap diri dalam senyap
Dari bising lahan dan kilau dunia

Tak bolehkah hamba rindu
Hanya simpang gelombang lantunku
Tuk dengar Engkau bicara
Hanya bayang goresan di antara dua mataku
Tuk tepikan rinduku
Habiskan waktu yang bergulir damai

Saat yang terlontar seperti di antara dua pelupuk mata
Beresonansi sempurna bergemuruh di ruang sanubari
Aku berada di sini,
Dan diriMu di ujung lainnya

Adakah Kau mendengar
Teriakan rindu samarku?
Tangis dalam sesalku
Saat terjebak lupa dan lacut
Saat deret huruf itu tetiba 
Memburam dari sudut memori
Saat simpang gelombang itu
Teredam bising koar dan nista dunia

Tak bolehkah hamba rindu
Hanya simpang gelombang lantunku
Tuk dengar Engkau bicara...

Sunday, 9 June 2013

“Cinta Tak Pernah Mati, walau Jasadku Sudah.”


Pesan ini akan sampai pada kalian, entah dengan cara apa.

Segala puji hanya padaNya yang telah menganugerahkan setiap desah napas, setiap aliran darah, setiap deras nikmat, setiap deru waktu yang telah terpakai maupun yang tersisa, setiap ilmu yang menyegarkan, dan setiap... setiap rasa yang terus menghiasi ruang-ruang hati sepanjang perjalanannya.

Rasa itu bernama cinta.

Satu kata yang kini membuat udara di sekelilingku menajam dan mencacah jalan napasku. Menusuk-nusuk pelupuk mataku. Membawa hatiku bermuara untuk bertemu dengan wajah-wajah itu lagi tanpa perlu bertemu dengan jasad mereka.

source image here

Tuesday, 4 June 2013

Tanya Awan Kecil



Bismillah

Bolehkah awan kecil berbicara
Tentang rasa yang lama terpenjara
Lagi-lagi menyibak lembaran lama
Dalam perjalanan rasa menuju sang muara

Pada desir kagum dalam diam
Pada kemelut rindu yang teredam
Pada sepilin do’a di hening malam
Ada penantian berhias tenteram

Kepak sayap peri hinggap perlahan
Meluncur sepatah lamaran ke balik awan
Bertanya pada do’a yang telah lama dieja
Sama berharap akan jawaban Sang Maha Raja

Apakah awan kecil masih terlalu kerdil
Di tengah luas samudera rumah tangga
Kuatkah ia berenang mengarunginya,
Mampukah ia menantang luasnya
?

Tak bolehkah
Ia menemukan jawabnya sendiri
Dalam istikhoroh dan rintih do’anya

Bukankah rasa itu telah lama terpenjara

Sunday, 19 May 2013

Catatan Perjalanan: Kunjungan ke Istana Peri Merah (Part 2)


Bismillah.

8 Mei 2013.

Saat bala tentara malam masih mengungkung desa Gading Mangu, di kala segala do’a mustajab, Papa Sang Raja Awan sudah terjaga dengan tangan menengadah ke langit-langit kamar. Putri Awan pun ikut terbangun sambil mengedip-ngedipkan mata dan menatap ayahnya dengan perasaan bahagia yang berkecamuk.

Saturday, 18 May 2013

Catatan Perjalanan: Menjelajah Dua Kota Impian (Part 1)

Bismillah


7 Mei 2013.

Dini hari sebelum matahari merangkak dari peraduannya, aku dan Papa sudah memelekkan mata. Bersiap-siap untuk sebuah perjalanan mendebarkan menuju dua tempat setelah Mekkah-Madinah yang ingin aku jejak di muka bumi ini: Desa Gading Mangu dan Kediri.

Tak hentinya hati ini dihujani rasa syukur pada Sang Maha Kuasa yang telah menyediakan perangkap manis ini. Akhirnya :’)

***

Kami tak akan tersesat untuk menemukan desa kecil cantik tujuan kami, sebab ada sebuah masjid besar dengan lima menara yang kokoh sebagai penandanya. Sebuah masjid besar yang [seolah] berada di tengah sawah.

Inilah masjid Luhur Nurhasan yang terletak di Desa Gading Mangu, Perak, Jombang, Jawa Timur. Dan di sebelahnya adalah SMP dan SMA Budi Utomo.

Friday, 3 May 2013

Metamorfosis Tangis.


Bismillah.



Hey, pemilik do’a yang beresonansi dengan setetes rindu hujan satu November lalu.

Juga penulis harap di dua botol ajaib perantara kesembuhan.

Juga pemilik tangan yang merajut sabar di sebatang pena penuh kenangan.

Juga pemilik lantunan pemecah rindu perengkuh tangis 3 Romadhon 1432 H.


Saturday, 16 March 2013

Ada Satu Hari




Bismillah

Ada satu hari di mana kau terbangun dan tersenyum seperti pada kemilau sabit Jumadil Ula yang menggantung di angkasa lepas. Ada satu hari di mana dirimu tersentak mendapat kiriman sepercik do’a sepertiga malam yang juga beresonansi dengan tetes rindu hujan satu November yang lalu. Ada satu hari di mana kau berharap bahwa matahari di hari itu akan tersenyum untukmu dengan intensitas yang lebih besar daripada biasanya.

Meskipun yang terjadi adalah sebaliknya. Hujan memilih membahagiakanmu dengan hadirnya. Tapi teduh dan dingin memang indah. Seindah bagaimana mereka mengguyur dan menemani langkah dipercepat beraturanmu saat berjuang bertemu Pak Guru Fisika. Ah, hujan memang sahabat awan, bukan?

This entry was posted in

Saturday, 26 January 2013

Maaf dan Terima Kasih: Seumur Hidupku


source
Bismillah


Papa...
Maaf, untuk setiap butir peluh yang membanjiri kening Papa karena ingin membahagiakanku. Untuk setiap kerepotan-kerepotan yang mencuat untukku, sedari masih di buaian hingga detik ini. Pun hingga kemarin, saat Papa terakhir kali sudah kesulitan menggendong anak gadisnya yang tidak ringan lagi ini.  Jazaakallohu khoiro, Pa... Karena sudah menjadi Papa yang terbaik dan tak tergantikan seumur hidupku.

Mama...
Maaf, untuk setiap kerutan di kening Mama karena memikirkanku. Untuk setiap pelukan yang tak terbalas. Untuk setiap senyum yang tak terbagi. Untuk setiap suruh dan tegak yang tak terlaksana. Untuk setiap denting kesusahan yang menggenang sejak aku hadir dalam hidup Mama. Jazaakillahu khoiro, Ma... Untuk semuanya, semuanya, dan semuanya.

Nenek...
Maaf, untuk semua-semua-semua yang pernah kulakukan yang membuat guratan indah di wajah Nenek terus bertambah. Untuk semua curahan kasih yang tak terbalas. Untuk semua kesabaran dalam menjagaku. Jazaakillahu khoiro, Eyang Uti... Karena telah menjadi malaikat penjaga tercantik yang selalu mendidikku untuk tegar, tegas, konsisten, disiplin, dan kuat.

Adek...
Maaf, untuk semua ego yang tertoreh dalam kebersamaan kita. Mungkin belum bisa menjadi kakak yang terbaik dan membimbingmu di setiap sela waktuku. Jazaakillahu khoiro, adikku sayang... Untuk semua tawa yang terbagi untukku.  

Para Malaikat Penjaga...
Semua kakak-kakak perawat di Rumah Sakit... Maafkan aku yang selalu merepotkan Mbak-mbak semua... Untuk semua energi yang tercurah untukku. Untuk semua dentang waktu yang lagi-lagi tercurah untukku. Untuk semua perhatian yang lagi-lagi-lagi, tercurah untukku. Terima kasih, Malaikat-malaikat Penjagaku... Mbak Arna, yang dengan kesabarannya selalu ada menyuapi, me-nebule, menemani, membagi tawanya. Mbak Rifah, Mbak Uchi, dan Mbak Rina, yang dengan kelincahan dan keisengannya tak pernah membuatku berhenti tergelak. Mbak Ana, sosok tersabar yang selalu menyuapi dan mengecek tekanan darahku setiap saat. Mbak Basmah, yang setia me-nebule-ku, Mbak Lisa, yang selalu ada untuk mengecek infus dan tekanan darahku... Terima kasih, Mbak...

Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa...
Bapak-Ibu Guru yang takkan mungkin bisa kubalas semua jasa dan kesabarannya... Pak Mege, Bu Dyan, Pak Nathan, Pak Hasyim, Pak Alwi, Bu Niar... Pak Fattah, Pak Amir, Pak Bakri, Pak Bahar, Pak Abu, Pak Anwar, Pak Joni, Pak Ben, Pak Ilham, Pak Abdul, Bu Yusnawiah, Bu Jum, Pak Basri, Pak Aziz, Pak Azis, Bu Jo, Bu Sumi, Bu Murnih, Bu Ariyanti, Pak Safar, Pak Rafi, Pak Syam, Pak Yoyo, Mam Kartini, Mam Ross, Sensei Mega, Sensei Nini, Sensei Ichal, Sir Nas, Pak E-learning (aduh maaf pak kulupa nama ta’ lagi),—juga semua penjaga sekolah, Pak Bonte, Daeng Makka, aduuh saya tak mampu menyebutkan semuanya...! Semoga Sang Maha Kuasa membalas jasa-jasa beliau...

Berikutnya, Para Gladiator...
Penghuni kelas XII IPA 1 (el-Gladiente) SMAN 17 Makassar—yang selalu mewarnai hari-hariku dengan spektrum-spektrum gelombang kebahagiaan mereka (terutama Ahmad Rizal, Try Hartono, Fian, Arry Hiroi, Fadhil Asyraq, dkk yang selalu membuat kelas jadi lebih beda dari biasanya). Maafkan aku [lagi dan lagi] terutama kepada Dina Izzati, Widya Natasya, Asyura Alikha (Rara), Nurul Amaliah (Yuyu), Nisrina Ekayani (Ninis), Nurrahmah (Amma), untuk semua kerepotan karena-ku. Terutama di hari Rabu, hehehe... Maafkan sikap keras kepala-ku. 
Terima kasih, kawan-kawan... Semua canda, tangis, dan tawa kita bersama akan terekam abadi di hatiku, terutama juga untuk kawan-kawan sebangku: Nur Dwiyana (Ana), yang selalu sabar mengajariku matematika walau tetap saja terkadang sulit kumengerti, Nurrahmah (Amma), yang mengajariku tertawa dan berbagi rasa, Nayla Qurnillah (Ila), yang selalu sabar di-bully Ana, dan mengajarkan banyak hal indah tentang dunia masak-memasak, Fadhiyah Ulfah (Ulfa), yang mengisi hari-hariku dengan keisengannya, namun selalu yang paling pertama panik saat aku sakit, juga Ulfa Dwiyanti (Nemo), A.Asti Ikasari (Asti), dan Eka Poernama Sari (Eka)...

Para Peneduh Hari dari Bangunan Hijau Tak Berpintu...
Jingga, Angin Lembut, Bias Pelangi, Embun, Langit Biru, Bunga Matahari, Putri Cahaya, Bianglala, Kakak Daun Permata Biru, Kakak Mutiara Merah Muda, Matahari, dan semua kakak-kakak dan adek-adek lain yang tak dapat kusebutkan semua namanya. Bersyukur pada-Nya karena telah dipertemukan oleh-Nya dengan kalian. Kalian yang membentuk Awan Putih hingga menjadi Awan Putih kuat dan tak rapuh lagi. Maafkan aku karena pada akhirnya harus terseok di tengah jalan dan berpisah dari kalian...

HSPF (Himpunan Siswa Pecinta Fisika)...
Mulai dari kakak-kakak terdahulu sampai adek-adek yang masih bergelut di dalamnya saat ini...Kak Fauzan Akbar (Kak Ochan), yang mengajariku bahwa mengerjakan soal fisika akan selalu “indah pada waktunya”, Kak Helmi al-Amin (Kak Hecil), Kak Farhan Radhi, Kak A.Qautsar Syahrezo (Kak Rezo), yang pertama kali mengenalkanku betapa menakjubkan dan menyenangkannya sebuah kompetisi fisika... Kak Munawir Bintang Pratama (Kak Muna), Kak Firhan Huzaefa (Kak Firhan), Kak Ibnu Sina (Kak Ibnu), Kak Ashari Aries (Kak Ari), Kak Mardianto, adalah guru-guru fisika terbaikku setelah Pak Amir, Pak Bakri, Bu Jo, dan Bu Dyan. Lalu Kak Amalia Nur Syahbani (Kak Bani), Iin Fadhilah Utami (Iin), dan Yaumil Chaeriyah (Umil), saudari-saudari seperjuangan setiap perlombaan... Juga tak lupa saudara Alif Ahsanul (Alif) dan Abdul Fuad Hadi (Hadi), yang entah sampai kapan aku bisa menyamai kejeniusan kalian... Terakhir, adik-adikku tercinta, Nur Aulia Hamzah, Arham Zainal, Athaza Wanandy, M. Nur Hidayat, Dewi Qalbiyani, Nur Atikah Tajuddin, Risqaa Tasyara, tetap semangat dan sukses selalu, yaa!!

Akhirnya, seluruh Peneduh Hari di Negeri Bermandikan Pelangi...
Jemariku terhenti sempurna di bagian ini, tidak kuasa menyebutkan semuanya. Wajah-wajah Para Peri yang kusayangi mulai menggenang ramai di pelupuk mataku... Tante Idja, Tante Anti, dan Mbak Mut (para Ibu Peri tersabar yang selalu mengisi kekosonganku dengan untaian nasehat mereka yang menyejukkan). Saudara-saudari sekelompok seperjuangan (baik yang sudah menikah maupun belum): Kak Suci, Kak Dhini, Anti, Febry, Mini, Saroh, Kak Ningsih, Kak Raodah, Kak Hijrah, Nisa, Rini, Nurul, Kak Alphie... Fadel, Miftah, Mas Rifqi, Mas Rohmat, Mas Dzikir, Kak Uli, Kak Ancha, Erick, dan Ary. Para Peri Putih dari seberang: Mbak Nuan, Kak Muna, Mbak Landa, Mbak Asma, Mbak Hasti, Ayu, Mbak Fitri, Mbak Shinta, Mbak Sinar, Mbak Cana, Mbak Lulu, Mbak Thya, Mba Uut, Mbak Dhilah, Mbak Thea, Mbak Andari, Mbak Fitri, dan lain-lain yang namanya pasti luput dari memoriku... Maafkan aku, untuk semua senyum yang tak terbalas, sapa yang tak terjawab, atau mungkin dekap dan jabat yang tak tergapai... Jazaakumullohu khoiro atas semua-semua-dan semuanya, semoga kelak dipertemukan kembali oleh-Nya di sisi-Nya...

Aduh, lupa!

Juga kepada Peri Merah... Tentang nama yang terselip di sepertiga malam. Tentang penerimaan dari jiwa yang apa adanya dan semua pemberian yang tulus. Tentang semua kesederhanaan kecil yang menyempurnakan segalanya. Tentang kedamaian yang memburamkan kegelisahan. Juga tentang rajutan harapan yang menepiskan keputusasaan. Untuk cinta-Nya yang Maha Sempurna. Jazaakallohu khoiro, tak terhingga...


Terakhir...

Kepada para pengunjung blog ini...
Maaf dan terima kasih kutorehkan dengan bulir kasih Awan Putih.


Saturday, 19 January 2013

Thursday, 3 January 2013

Rindu Itu Sulit


Di antara terang asa yang baru. Di antara kelumit putaran waktu. Di antara kubangan-kubangan rindu. Di antara relung yang terbentang jauh. Di antara tegasnya garis-garis sibuk. Lagi-lagi terhenyak dalam sulit. Terhenti kembali di persimpangan yang rumit.

Mengapa? Sulit sekali.

Untuk menyapa sebuah, atau mungkin beberapa butir kebisuan. Untuk menghamburkan kebahagiaan. Untuk memburamkan kerinduan. Untuk mencipratkan sekerjap saja, hangat dan tawa. Hanya udara yang basah dan rintik gerimis yang terus mengisi kegamangan. Tak hentinya hasrat ingin berbisik pada sang hujan dan menitipkan beberapa pucuk rindu.

source here
Mungkin kepada...