Wednesday, 18 December 2019

Tentang Tidur

Jika anda ingin mensyukuri sesuatu, coba bersyukurlah dengan anda bisa tidur dengan normal, karena ada sekian banyak orang di dunia ini yang tidak bisa tidur dengan normal, bahkan ada yang beberapa harus meminum obat agar bisa tidur. Saya teringat dosen saya mengatakan, semua gangguan jiwa keluhan utamanya diawali dengan gangguan tidur. Setiap pasien yang datang ke seorang psikiater pasti pada awalnya hanya mengeluh dengan gangguan tidur. Setelah itu baru kemudian dokter menelaah apa etiologinya, apakah karena cemas, depresi, dan lain-lain.

Saya sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan gangguan tidur karena saya pikir itu memang siklus tidur saya yang memang hanya sedikit tidur, berhubung sejak sekolah menengah hingga kuliah kami dituntut belajar hingga larut malam. Hingga tiba saatnya saya mondok di sebuah pesantren di Jawa. Di saat itulah saya pertama kali mempertanyakan siklus tidur saya. Di saat santri lain sudah tertidur pulas jam 10 malam, saya hanya bisa memejamkan mata sambil membolak-balikkan badan sampai jam 2 malam. Agak aneh sebenarnya, karena suasana mondok yang begitu tenang, kami dibiasakan sholat malam dan menghafal hingga menjelang shubuh, tapi saya tetap tidak bisa tertidur sebelum jam 1 atau jam 2 malam. 

Sewaktu saya hamil pun saya pernah tidak tidur berhari-hari dan saya rasa saya hanya terlalu bahagia atau terlalu bersemangat atau mungkin karena khawatir menanti hari demi hari menjelang kelahirannya. Saya bahkan dengan sengaja membuat diri saya lelah dengan menyapu, mengepel, dan mencuci piring di tengah malam saat saya tinggal di rumah mertua saya, tapi tetap saja saya tidak bisa tertidur hingga shubuh. 

Setelah melahirkan pun saya jarang complain tentang tidur saya yang sedikit karena saya harus terjaga di malam hari dengan menyusui si kecil. Hingga usianya hampir menginjak 2 tahun, dan siklus tidurnya mulai teratur, giliran saya yang sulit memulai tidur. Saya pun mulai merasa terganggu dengan hal ini karena saya harus dinas di RS setiap pagi dan membutuhkan stamina yang prima. Saya sudah mencoba segala cara, membaca Quran, murojaah, sholat malam, tetap saja sulit untuk memulai tidur. Saya mulai menganggap siklus tidur saya sangat tidak normal setelah saya menghubungi seorang dokter psikiater yang saya kenal sangat dekat dengan ibu saya.

Alhamdulillah, 'alaa kulli hal, setelah menjalani terapi dengan beliau, saya mulai bisa tertidur dan mengalami siklus tidur yang normal seperti orang normal lainnya. Bahkan, saya tidak pernah lagi mengalami mimpi-mimpi buruk atau bahkan mengalami mimpi. Tidur saya jatuh hingga ke fase NREM (Non Rapid Eye Movement) stadium IV atau bahkan fase REM (Rapid Eye Movement), saya sulit untuk dibangunkan saking nyenyaknya. Tidur yang nyenyak sangat penting untuk serotoninergik, yaitu pembentukan serotonin dari asam amino triptofan, dan neurotransmitter serotonin ini sangat penting untuk mempertahankan perasaan bahagia, nafsu makan, gairah seks, dan kekurangan neurotransmitter ini menjadi penyebab utama pada orang-orang dengan depresi. 

Meskipun saat ini saya harus tertidur dengan minum obat terlebih dahulu, saya lega bahwa saya bisa mensyukuri, saya bisa tidur dengan nyenyak lagi, dan mengucapkan selamat tinggal terhadap insomnia yang telah menjadi teman setia selama bertahun-tahun. 

0 jejak yang berarti ^^:

Post a Comment