Wednesday, 16 August 2017

Catatan Dokter Muda: "Di Atas Normal."

Bismillah



Memulai melanjutkan kembali pendidikan profesi setelah menikah awalnya mungkin masih terasa sedikit horror bagi seorang house wife newbie seperti saya. Memikirkan bagaimana akan menjalani kesibukan demi kesibukan dinas dan jaga siang-malam di Rumah Sakit, belajar, sambil mengurus suami, dan bagaimana kalau ternyata sudah isi dan harus merasakan bagaimana beratnya hamil sambil menjalani pendidikan profesi.

Tetapi alhamdulillah 'alaa kulli hal, ternyata Dia memang tidak pernah membebani hambaNya kecuali atas kemampuan hambaNya. Ujian, cobaan, dan takdir apapun yang Dia hadiahkan untuk hambaNya pasti akan dengan mudah terlewati jika memang Dia yakin hambaNya mampu melewatinya. :"

Tidak terasa sudah melewati 3 stase pendidikan profesi. Stase pertama yang dilewati adalah bagian Neurologi (Saraf) dan menurut seseorang yang masih newbie dalam dunia perkoasan mungkin ini adalah bagian yang lumayan menantang, bikin gege (gaduh-gelisah), dan ternyata bertepatan dengan bulan Ramadhan dan hamil usia 2 bulan lagi. :" Rasanya masih terharu ternyata masih keluar dari bagian ini hidup-hidup, mengingat waktu itu sedang hamil muda dan terkadang masih didera morning sickness yang harus dilawan karena setelah sahur menjelang shubuh sudah harus ke Rumah Sakit untuk follow up pasien-pasien bangsal, dan dalam keadaan puasa pula. Keliling bangsal, dan untuk follow up 1 pasien Neuro itu tidak sebentar. Semua dinilai mulai dari rangsang menings, nervus cranialis, pergerakan, kekuatan, tonus otot, refleks fisiologis, refleks patologis, sensorik tiap dermatom, dan lucunya ini dilakukan untuk minimal 30 pasien dalam 1 bangsal. Tetapi terkadang terharu juga karena pasien-pasien Neuro merasa menjadi lebih diperhatikan oleh dokternya (padahal kami hanyalah dokter muda, bukan residen apalagi konsulen) dan tiga kata sederhana "Terima kasih, Dok" membuat kelelahan, kelaparan, haus, dahaga, dll saat itu terbayar begitu saja. :"

Stase kedua yang dilewati adalah bagian Kardiologi (Jantung) dan mungkin ini stase yang masih membuat saya sedikit gege. Anehnya sebagian besar teman-teman yang telah melewati stase ini selalu mengatakan "Santai kok, tidur terjamin, bisa selfi-selfian di gedung baru PJT (Pusat Jantung Terpadu)." --ternyata sangat berkebalikan. Pekan pertama saya mendapat dinas di poliklinik PJT yang ternyata pasiennya dalam sehari minimal 100an orang, dan pernah saat hari Jumat (tak terlupakan sekali) saat itu pasiennya dalam sehari 250 orang. Poli berasa pasar dari pagi buta hingga menjelang maghrib. Bahkan lucunya kami disuruh residen untuk membuatkan resep obat untuk pasien antrian selanjutnya dan selanjutnya (pasiennya belum masuk, resep obatnya udah ada. Nah lho wkwkwk). Dan entah mengapa setiap jaga siang/malam selalu dapat pasien baru yang bertubi-tubi, bahkan hampir tiap minggu dapat pasien code blue yang akhirnya meninggal. Tiap pagi-pagi buta sudah sibuk EKG semua pasien di IGD atau di bangsal, dan sebagai hasilnya benar-benar terlatih untuk menjadi "bumil yang tahan berdiri lama bahkan lari-lari ke sana kemari" (benar-benar berasa lupa kalau waktu itu lagi hamil, untung saja pas waktu stase itu ga pernah disuruh RJP).

Thanks cardio, bakal kangen sama pasien poli nya yang rame kayak pasar, bakal kangen sama para konsulen yang tidak sungkan-sungkan membagi ilmunya tiap beliau visite, bakal kangen sama residen-residen yang enak buat diajak diskusi, bakal kangen sama kakak-kakak perawat yang easy going dan enak diajak cerita, bakal kangen sama CVCU-nya yang sudah kayak rumah kedua semenjak nenek dirawat di sana (jadinya berasa dinas dan jaga siang-malam 7 kali 24 jam), banyak pengalaman berharga meskipun kayaknya agak gege tapi alhamdulillah happy ending.

Stase saat ini adalah Psikiatri (Jiwa), dan menurut saya ini stase yang paling mengajarkan makna kehidupan yang sebenarnya. Meskipun terkadang melihat hal-hal yang tidak manusiawi di RSJ seperti pasien mengamuk yang diikat keempat ekstremitasnya di tempat tidur dalam sel yang bau, penuh kotoran, dan makanan basi, tapi terkadang saya belajar banyak dari pasien-pasien di sini.

Betapa "kesabaran", menjadi "pendengar setia",dan "kepo" atau gila urusan menjadi bekal dan keharusan mutlak untuk jadi psikiater. Pernah suatu ketika pengalaman jaga malam, lanjut dinas, dan lanjut lagi jaga siang, unforgettable moment 24 jam genap jaga di IGD Jiwa, membuat diri ini harus larut dalam urusan rumah tangga orang, urusan perekonomian keluarga orang, mendengar segala tangisan dan curahan hati istri-istri yang belasan tahun tidak disentuh suaminya, anak-anak yang merasa ibunya mulai aneh-aneh, sampai mendengar ocehan pasien-pasien dari bisikan menerima wahyu, dikejar-dikejar setan, atau kemunculan kembali sosok mantan pacar di usianya yang sudah beranak-cucu dll.

Pernah suatu ketika pula, saat dinas pagi di salah satu bangsal di RSJ. Perempuan, usia paruh baya, mengaku nabi ke-26 dan diutus Tuhan untuk membangun Ka'bah di Pos Polisi Tello. Pasien ini afeknya tumpul banget, cerita tanpa ada perubahan ekspresi wajah sama sekali, kerutan-kerutan dahi saja tidak ada.


"Ibu bisa ki ceritakan dari mana ki dapat gelar nabi ke 26? Banyak mi kah pengikut ta?"
"Saya dengar suara-suara."
"Ada berapa suara bu?"
"2 orang." 
"2 orang... Laki-laki atau perempuan, bu?"
"Laki-laki. Menurut saya itu Nabi Muhammad dengan Sultan Hasanuddin yang kasih tahu saya itu nabi ke 26. Saya keliling-keliling mesjid sambil mengaji."
"Terus, itu Ka'bah yang katanya kita bangun di Tello itu di sebelah mananya bu?"
"Di pos polisi."
"Ha? Jadi Ka'bah sekarang sudah pindah di Pos polisi Tello bu? Siapa yang bangun ki itu di situ? Siapa yang kita suruh?"
"Walikota sama gubernur."
"Ooh... jadi kita' ini sudah berteman sama pak walikota dengan gubernur di'? Jadi tidak perlu mi orang jauh-jauh pergi haji bu, tinggal pergi di Tello saja?"
"Iya. Saya juga merasakan diri saya ini alam."
"Maksudnya bu????? Jadi kita ini matahari, pohon, begitu?"
"Iya, saya yang melahirkan matahari. Saya juga bisa tahu kalau sebentar lagi Makassar akan kena gempa."
"Hah? Jadi kita' yg melahirkan matahari???? Trus ibu, kapan ki terakhir mandi? Dalam seminggu ada ji 1 atau 2 kali kita' mandi???" (saya melirik ke arah jilbabnya yang sudah dikerumuni kecoa-kecoa kecil).
"Tidak. Saya dari lahir nda pernah mandi karena saya ini Wali."
"Hahhh??? Jadi karena kita' ini Wali jadi kita nda pernah mandi? Bagemana caranya Wali sm Nabi nda pernah mandi... Ibu, bukan ki orang Arab kayak Nabi, kenapa ki bilang diri ta ini Nabi ke 26."
"Karena saya juga turunan raja."
"Ohh....turunan raja apa ki?"
"Turunan raja Gowa." *sambil nulis-nulis sesuatu di kertas, yang sepertinya itu nama gelar raja Gowa, trus diikuti nama ibu itu, dan terakhir ditambahi 'Nabiyullah'.
"Ibu kenapa ki bilang kita ini Nabi, memangnya ada kah kelebihan ta?"
"Saya bisa baca penyakitnya orang." *dan mulailah si ibu menjelaskan penyakitnya tiap orang yang lewat di situ mulai dari perawat, pasien, sampe kita adek koass.
Duh... Udah deh, di iya in aja yahh....

Masih banyak lagi yang lucu-lucu dari pasien di sini. Ada yang memiliki waham bahwa dirinya adalah tuhan (dan dia menciptakan sendiri bahasa tuhan--ini yang disebut neologisme), ada yang memiliki waham bahwa kiamat sudah akan terjadi bahkan dia sudah sholat menghadap arah Timur, ada yang memiliki waham bahwa dirinya adalah intelijen Pak Presiden Jokowi, dan bahkan ada yang memiliki waham bahwa dirinya sudah mati tertembak jadi dia sampai sekarang beranggapan bahwa dirinya sedang hidup di dunia lain, dan masih banyak lagi.

Tetapi tidak sedikit juga pasien-pasien di sini yang membuat hati menjadi tidak enak tiap mendengar keluh kesah keluarganya atau pasien tersebut sendiri. Kebanyakan adalah istri-istri yang suaminya mabuk-mabukan, main perempuan, mengkonsumsi sabu-sabu, hingga akhirnya tidak sedikit dari mereka yang berkali-kali masuk RSJ dengan diagnosis episode depresi berat dengan gejala psikotik yang kemudian berkembang menjadi skizofrenia.


Mengutip salah satu tulisan seorang teman sejawat yang menginspirasi saya:
Bukan hanya sebatas itu, beberapa pasien di sana ada yang kemudian betul-betul tinggal dan hidup disana. Beberapa pasien yang sudah baik kondisi kejiwaannya kadang tidak memiliki nasib yang baik, banyak dari mereka yang tidak diterima lagi oleh keluarganya. Tentu mereka sangat ingin bisa kembali ke keluarga mereka, tapi mengeluh sepertinya bukan pilihan bagi mereka, mereka kemudian tinggal di sana untuk menjaga "rumah" mereka dan membantu menyembuhkan orang-orang yang "berkunjung" ke rumahnya.

Tak jarang mereka harus menyuapi, memandikan, bahkan mengurus kotoran pasien lain. Tidak ada gaji bulanan apa lagi tunjangan hari raya, semua dilakukan ikhlas. Hal yang sangat jarang lagi ditemukan pada masyarakat materialistik saat ini. Bila datang waktu makan, semua berbaris rapih. Sabar mengantri tidak ada yang saling mendahului untuk berebut makanan. Begitupun saat mandi dan waktu minum obat. Semua bisa bersabar untuk mengantri tanpa ada yang merasa ingin didahulukan dan diperlakukan spesial (apalagi sampai mengaku anak pejabat).

Masih banyak hal lain yang bisa dipelajari di sana. Pelajaran penting bagi kita yang merasa "normal" dari mereka yang sering kita pandang sebelah mata. Pelajaran tentang saling mengasihi, pelajaran tentang kesabaran, pelajaran tentang keikhlasan, yang rasanya semakin hari semakin jarang kita temui. Senang bisa belajar dari mereka yang telah menemukan inti kebahagiaan yang sesungguhnya adalah bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini dan mencoba terus bermanfaat untuk orang lain.

2 comments: