Monday, 10 April 2017

Tentang Aku, Pondok Tahfiz, dan Kamu.


Bismillah


1...2...3...4...5. Lima Juz. Tiap hari kami menghitung dan menghitung. Menunaikan kewajiban santri untuk memurojaah minimal 5 juz dalam sehari. Tak pernah terbayangkan dalam benak kami sebelumnya. Kehidupan gemerlap duniawi di luar pasti akan sulit bagi kami untuk menyempatkan diri murojaah hafalan paling sedikit 5 juz dalam sehari.

Jadwal yang padat memaksa kami agar tidak boleh sakit sedikitpun dalam program ini. Kalau tidak, kami bisa menanggung hutang hafalan dan murojaah yang semakin menumpuk. Jam 2 adalah jam bangun tidur dan mandi untuk kami. Terkadang harus memaksa mata ini melek sementara malamnya baru bisa tertidur jam 12 malam. Bukan insomnia, tapi mungkin karena jam 12 malam sudah menjadi jam tidur biologis yang sulit untuk diubah.

Terkadang aku merasa minder dengan santriwati lainnya di sini. Mereka semua berasal dari pondok pesantren, mereka semua adalah mubalighot, yang sudah pernah merasakan pahit manisnya bertugas di kampung orang, yang sudah pernah merasakan asam asinnya kehidupan pesantren semenjak kecil. Sementara aku hanyalah seorang mahasiswi biasa, bukan seorang mubalighot. Berlatar belakang pendidikan formal sampai lulus menjadi sarjana. Belum pernah merasakan pahit manisnya kehidupan di pesantren. Dan tentu saja, sudah terbiasa bahkan bosan, mencicipi gemerlapnya dunia luar.

Terkadang aku merasa aneh, dapat diterima dan diluluskan di program itu. Ketika lulus dan orang tua sempat tak mengizinkan, entahlah, hati ini sedih sekali. Sempat 1 pekan tidak pulang ke rumah, menyibukkan diri di kampus dengan alasan sibuk mengurus berkas yudisium. Keharusan untuk melanjutkan pendidikan profesi dokter dan keterbatasan selang waktu untuk cuti yang diberikan oleh pihak pendidikan rumah sakit menjadi alasan yang kuat bagi orang tua untuk tak mengizini.

Namun, akhirnya aku diberi izin dengan syarat hanya boleh mengikuti setengah dari 1 tahun saja dari keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk program itu. Alhamdulillah, akhirnya aku dan orang tua bisa berdamai lagi.

Namun baru 2 bulan berjalan.
Ada kabar dan perintah yang mengejutkan dari orang tua di rumah.
Aku harus pulang dan segera mengundurkan diri dari program itu.
Aku memohon dengan sangat agar bisa kembali 1 kali saja untuk ikhtibar, ujian pertama dan terakhir di hadapan para Syaikh kami.



Tiba hari ikhtibar.
Usai ikhtibar, ketua yayasan mengumumkan nilai dan peringkat yang kami peroleh satu persatu.
.
.
Di sinilah aku. Hanya bisa menangis mendengar beliau menyebut namaku di peringkat pertama dengan nilai mumtaaz 100. Tak dapat kubayangkan harus menghadap beliau sebentar lagi untuk mengajukan surat pengunduran diri setelah pengumuman ikhtibar pertama itu.
.
.
Di sinilah aku. Akhirnya pulang, kembali mencium udara hangat di langit Makassar sembari  menghela napas menenangkan diri. 2 bulan yang sangat singkat itu takkan kulupakan sebagai pengalaman berharga. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan menjadi seorang mubalighot dan hafizhah yang sempurna seperti impianku dahulu. Mungkin aku tidak bisa menjadi seperti mereka, para peri yang sangat sempurna, yang hidupnya tak pernah lepas dari sabilillah.
.
.
Beberapa hari berlalu. Kejutan dariNya tiba-tiba datang begitu saja. Kesedihanku terhapuskan bagaikan hujan membasahi debu di atas bebatuan. Kejutan dariNya melalui dia. Dia yang semoga kelak dapat membimbingku lebih baik di jalanNya, meski tidak dengan menjadi seorang mubalighot dan hafizhah yang sempurna. Membimbingku menjadi seorang pendamping hidup yang sholihah, yang akan mengisi hari-hariku dengan lantunan kalamNya dan sunnah nabiNya. Dia yang namanya terselip dalam doa di sepertiga malamNya. Dia yang namanya sudah 5 tahun terkubur di halaman yang bermandikan awan putih ini.
.
.
Tidak hentinya aku merengkuh dalam sujud syukur padaNya. Memberiku kejutan melalui jalan takdir yang lebih baik. Menghapus sendu dan menggantinya dengan rona merah.
.
.
6 hari lagi menuju hari bahagia itu.
Semoga semuanya berjalan dengan lancar.
Mungkin ini memang kehendakNya.
Ridho menjalani takdirNya adalah sebuah anugerah.
Karena terkadang, Dia memberikan apa yang kita butuhkan,
bukan apa yang kita inginkan.

Sidoarjo-Makassar, 10 April 2017
Dari hambaNya yang merona
dalam melangkah di jalan yang diridhoiNya

0 jejak yang berarti ^^:

Post a Comment