Monday, 15 August 2016

Sembilan Lekuk Senyum di Air Terjun Magelli

Bismillah

Mendung menyelimuti kecamatan Balusu, kabupaten Barru, siang itu. Usai melaksanakan rapat pelaksanaan program kerja MTQ tingkat desa dan sholat dhuhur di masjid dusun Bulu Dua desa Balusu, delapan lekuk senyum masih tergambar indah di wajah-wajah penghuni posko desa Balusu. Sedangkan awan putih saat itu sedang menatap gambar kanvas superbesar milik Sang Maha di atasnya. Menatap pantulan mendung yang menari-nari di matanya, seolah mengatakan mereka hari itu tak boleh kemana-mana.

Tetapi delapan lekuk senyum tadi tiba-tiba saja melampaui batas antara rencana dan kepastian. Mereka segera naik ke mobil kecil awan putih dan menuju posko Desa Lampoko yang terletak di pinggir jalan poros. Tiga motor terparkir di depan posko. Pemilik delapan lekuk senyum tadi saling bertatapan satu sama lain dengan penuh harap. Sayangnya, Sang Maha belum berkehendak.

Mungkin memang rencanaNya yang terbaik. Para pemilik delapan lekuk senyum pun meluncur menuju posko lain, Kelurahan Takkalasi, sebuah posko yang terletak di ibukota kecamatan kami. Sesampainya di sana, ternyata teman kami yang seorang Malaysia menawarkan mobil pick up hijau milik kelurahan Takkalasi, sehingga kami yang bersembilan dan beberapa orang dari posko mereka yang ingin ikut bisa berangkat bersamaan.

Mendung dan tiupan angin yang menelisik para pemilik delapan lekuk senyum tadi tidak juga memudarkan satupun lekuknya. 




Beberapa lama kemudian, sampailah kami di posko desa Kamiri, desa tetangga dari lokasi desa kami. Pantulan mendung mata awan putih semakin menari-nari dan rintik hujan mulai membasahi rompi kami, namun delapan lekuk senyum tadi belum memudar dari wajah-wajah di samping awan putih.

Kami lalu menculik seorang teman dari posko desa Kamiri untuk menjadi penunjuk jalan. Untuk beberapa saat, jalanan ke tujuan kami aman-aman saja dan bahkan masih menikmati indahnya lukisan Sang Maha Pencipta di hadapan kami.






Tak lama kemudian, ketika kami mulai mendapati tanjakan menurun yang curam, delapan lekuk senyum tadi mulai memudar. Tanjakan menurun lalu berganti tanjakan naik yang semakin lama semakin terjal. Wajah-wajah di atas mobil pick up hijau itu menatap ngeri jalanan di belakangnya. Beberapa malah menutup mata. Awan putih hanya membisikkan permohonannya pada Sang Maha dengan penuh harap dan khawatir. Desing gas mobil semakin lama semakin keras. Ketika telah sampai di tanjakan yang sangat tinggi, mobil pick up hijau itu mulai kandas sebab jalanan aspal sudah berganti jalanan yang rusak dan berbatu-batu. 

Seorang Malaysia teman kami yang menjadi sopir pun berbisik ngeri, "Teman-teman... bensinnya sudah mendekati E." Mungkin karena gas mobil sudah ditekan sampai full berkali-kali.

Kami yang di belakang mulai berteriak panik. Beberapa melontarkan penyesalannya. Beberapa lagi berharap kosong ada warga desa yang akan menemukan kami di situ, tapi di tengah hutan dan dekat jurang serta jalanan yang terjal dan rusak, rasanya mustahil, melihat tidak ada satupun rumah penduduk sepanjang perjalanan yang baru kami lewati.

Salah seorang dari pemilik delapan lekuk senyum tadi mulai merogoh HP di sakunya, dan masih menghela napas syukur mendapat sedikit sinyal dan menelepon koordinator kecamatan kami.

"Halo, Mail... Kita sedang di jalan ke air terjun Kamiri. Sudah di tanjakan paling tinggi tapi tiba-tiba bensin sudah mendekati E"---tuuut. Teleponnya terputus, sinyal hilang. Sekarang tak lagi ada lekuk senyum di wajah-wajah tadi.

Kami akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil pick up dan mendorong mobil bersama. Syukurlah ketika akhirnya mobil bisa berjalan lagi. Tetapi kami semua lebih memilih meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki melihat kengerian tanjakan yang semakin terjal dan berbatu.

Syukurlah ternyata tak lama setelah kami berjalan, di depan kami ada kios kecil dengan deretan jirigen berisi bensin. PertolonganNya masih menyertai kami...dan tak lama kemudian, akhirnya kami menemukan papan penunjuk jalan yang kecil di sebelah kiri menunjuk ke arah hutan-hutan di sebelahnya. Kami pun turun dari mobil dengan bernapas lega.

Kurang lebih 1 km kami melewati hutan yang di sebelah kirinya jurang. Jalanan agak mendaki dan sedikit licin karena hujan. Jalanannya sempit, hanya bisa dilalui maksimal 2 orang. Kami pun berjalan beriringan. Awan putih berjalan keempat dari terakhir. Di belakang awan putih ada kak Balqis yang tak hentinya gemas melihat awan putih masih bisa mendaki dengan rok yang menjuntai. Di belakang kami ada Rahmat (koordes kami) dan Wancher (seorang teman Malaysia yang menjadi sopir tadi).

Jalanan di hutan menuju air terjun tujuan kami tidaklah mudah ternyata. Terkadang jalanannya menurun dan licin. Sesekali pemandangan kanvas langitNya mulai terlihat, dengan deretan bukit di atas batas cakrawala. Sesekali kami menemukan monyet-monyet sedang bergelantungan di pohon yang tinggi. Ketika air terjun semakin dekat, batu-batu besar mulai bermunculan di hadapan kami. Batu-batu besar yang berlumut dan licin. Kak Balqis di belakangku mengawasiku dengan gemas saat melihat rokku yang menjuntai tidak menghalangi pijakanku saat memanjat batu-batu yang besar dan licin itu. Kami saling menawarkan tangan dan memperingatkan satu sama lain agar tidak terpeleset.









Gemericik air yang deras dan semakin dekat membuat kami semakin bersemangat. 






Delapan lekuk senyum tadi kembali berbinar memancarkan kebahagiaan. Hingga akhirnya kaki-kaki kami mulai basah di antara pijakan-pijakan kami di atas batu-batu besar. Delapan lekuk senyum tadi pun bertambah satu.




Segala puji bagiMu ya Allah, terima kasih untuk semua panorama yang indah ini.


Balusu, 21 Juni 2016.
Salam dari sembilan lekuk senyum di Air Terjun Magelli.
Syukurlah kami bisa pulang dengan selamat.



0 jejak yang berarti ^^:

Post a Comment