Saturday, 13 August 2016

Petualangan di Dunia Lain.

Bismillah


Baru saja beranjak dari kehidupan yang lain selama dua bulan yang indah di dunia yang lain. Dunia lain? Bukan berarti dunia lain yang ada penampakan aneh dan uka-ukanya itu, hehehe. Ini petualangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan angkatan 53 Universitas Hasanuddin. Peristiwa sekali seumur hidup, akan selalu terkenang, dan takkan terulangi lagi.

Sewaktu pertama kali diantar oleh Pak Kepala Desa ke posko dan lokasi desa kami, yang di dalam hati hanya khawatir karena mobil pick up Pak Kepala Desa mengantar kami masuk ke sebuah jalan di Desa Balusu, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, yang ternyata jalannya menanjak dan tidak hentinya melewati bukit-bukit, padang rumput, dan hutan-hutan. Pemandangan yang asri dan indah, sesekali lewat kuda dan sapi di jalan. Dan yang paling mengagetkan kami adalah ketika mobil melewati jembatan kayu di atas sungai yang nampaknya agak mengkhawatirkan, hehe. Posko kami tidak terlalu jauh dari jembatan kayu itu, dan ternyata berada di kaki gunung batu yang mempesona.













Petualangan kami pun dimulai. Desa itu memiliki 6 dusun. Hari demi hari kami melaksanakan program kerja kami di keenam dusun tersebut selama 2 bulan. Dusun pertama tentunya dusun Balusu, tempat kami menetap di rumah pak Kepala Dusun Balusu. Pemandangannya seperti gambar di atas, banyak bukit dan hutan-hutan, melewati sungai besar dengan jembatan kayu yang agak mengerikan, dengan pemandangan gunung batu yang cantik. Kalau malam, jalanan ke posko kami agak mengerikan karena tanpa penerangan dan serasa benar-benar masuk hutan karena kalau kurang beruntung, bisa bertemu babi hutan atau ular besar. Untuk program kerja di dusun ini seperti penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, atau lomba balita sehat, biasanya kami laksanakan di rumah pak Kepala Dusun, dan pesertanya biasanya membludak, sebab di dusun ini paling banyak penduduknya.





Dusun kedua, ketiga, dan keempat adalah dusun Lapasu, Bulu Dua, dan Salesso. Kalau dusun Lapasu letaknya sangat dekat dari jalan poros, tempat di mana kantor desa kami berada dan pustu (puskesmas pembantu) satu-satunya di desa ini dan jadi tempat kegiatan kami melaksanakan proker penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan,  dan suasananya agak semi kota jadi tidak menarik untuk ngebolang. Nah kalau dusun Bulu Dua dan Salesso letaknya bersebelahan dan mulai dari jalan poros, masuk dan memanjang sepanjang kaki gunung. Di dusun ini ada Sauraja Lapinceng (rumah raja Bugis zaman dahulu) yang dijadikan objek wisata para turis. 





Oh ya, dusun ini juga jadi tuan rumah proker kami yang paling besar yakni MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an) Tingkat Desa yang diselenggarakan selama malam 22-24 bulan Ramadhan. Maasyaa Allah, lomba ini diselenggarakan seusai sholat tarawih hingga jam 12 malam, dan pada acara penutupan hingga jam 1 malam, tapi anak-anak dan warga sedesa tetap ramai dan semangat meskipun sudah sangat larut.





Dusun kelima adalah dusun Padang Loang. Dusun yang benar-benar mengasyikkan untuk nge-bolang, nge-galau, dan tempat cari sinyal, hehe. Kalau warga bilangnya dusun ini dekat kok, eh ternyata harus jalan kaki dan itupun 1 jam baru nyampe, mana lewati sawah, perkebunan, sungai, dan jembatan gantung yang agak ngeri. Dusun ini penuh dengan hamparan kebun semangka. Sayangnya rumah-rumah di dusun ini sangat berjauhan dan hanya ada 15 kepala keluarga dalam 1 dusun jadi kami melaksanakan proker kami dari rumah ke rumah. Yang tak terlupakan, kami pernah dijamu oleh seorang bapak dengan semangka 1 orang 1, kami dikejutkan dengan semangka yang tidak henti-hentinya didatangkan oleh bapak itu.











Dusun terakhir yang paling seru. Dusun paling terpencil di atas gunung, menuju ke sana harus jalan kaki 7 km (kurang lebih jalan kaki 2 atau 3 jam), melewati hutan rimba dan menyeberangi sungai 3 kali. Kendaraan yang bisa naik ke sana hanya motor cross atau kuda. Di sana ada 35 kepala keluarga, 1 masjid (tempat yang satu-satunya ada WCnya di dusun itu kayaknya) dan 1 sekolah yang isinya siswa/i kelas 1-6 SD hanya 14 siswa keseluruhannya. Yang paling menakjubkan kalau di jalan ketemu ibu-ibu turun gunung dan di atas kepalanya ada sekarung beras dan beliau-beliau berjalan tanpa alas kaki. Oh ya, dan ada juga kakak-kakak yang jadi guru di dusun tersebut tetapi rumahnya jauh di bawah, di dekat posko kami, jadi kakak itu tiap hari naik turun gunung untuk mengajar mereka, maasyaa Allah.














Meskipun penat, lelah, dan badan serasa ditonjok semua, mana lagi baju penuh lumpur dan kaki basah-basah dengan air sungai tapi rahmatNya membuat kami tetap bisa melewati semuanya dengan senyum lebar serta canda dan tawa.

Petualangan kami tidak hanya di situ. Banyak yang bilang kami posko penjelajah, posko pa'bolang, posko tukang jalan, hehehe. 
















Dua bulan adalah waktu yang cukup. Membuat tawa tanpa alasan, mengalirkan tangis saat perpisahan, menumbuhkan rindu dalam sendirian, merangkai rencana pertemuan.

Makasih, Rahmat (Rahmat Hidayat), calon perawat yang dipanggil "boss", koordes paling bertanggung jawab dan sabar karena tidak pernah terlihat marah, satu-satunya imam sholat 5 waktu di posko, tidak pernah menolak untuk bantu cuci ayam, kerja ikan, ngiris lombok, numbuk bumbu, masak-masak dan cuci piring di dapur, paling sabar kalau urusan nge-print berlembar-lembar, paling jahil,dan terkenal kece karena pernah naik motor cuma 1 jam dari Makassar ke Balusu.

Makasih, Wayne (Dwayne Daniel Frederick Rehatta), calon dokter gigi yang dipanggil "papa wayne" karena paling kebapakan di posko kami, yang selalu marahi kita kalau pulang malam habis jalan-jalan, yang selalu protes kalau kita jalan terlalu jauh dan tidak ada gunanya, yang selalu ingatkan sholat (?), yang paling rajin ke masjid buat cari sinyal hahaha, yang paling sering bawa oleh-oleh banyak kalau pulang ke posko.

Makasih, kak Balqis (Sitti Balqis)--calon dokter yang keibuan dan paling enak masakannya, Marini--calon dokter yang sering mager, Nia (Kurniati Billa)--calon fisioterapist yang paling jago bikin labu goreng, Siti (Siti Kurniah Ramadhani) yang gemesin, Ida (Nurhidayah Nurdin), si anak bungsunya kak Balqis yang suaranya supersonic, Uga (Nurul Anugrah Ridwan) yang paling jahil, dan Mariska (Mariska Esther) si cewek strong.

Dan tentunya terima kasih banyak untuk bapak dan ibu tuan rumah yang sabar menampung kami selama 2 bulan, tidak pernah marah sekalipun dan tidak mau terima imbalan uang sepeser pun. Padahal mungkin kalau malam tidurnya tidak nyenyak karena kami, si baby Aliyah yang selalu nangis karena keributan yang kami buat di rumah, atau si Nabil yang selalu nyaris telat ke sekolah karena mengalah mengantri mandi setelah kami. 

Terima kasih banyak, teman-teman. Untuk cerita yang indah selama 2 bulan. 2 bulan bersama, ketika kesederhanaan menyempurnakan segalanya. Ketika kesulitan menguatkan semuanya. Kengerian jembatan kayu, jauhnya langkah berjalan, teriknya mentari, dinginnya fajar, dan basahnya kaki2 melewati sungai, semuanya dihadapi dengan canda dan tawa. Masak dan makan bersama, ngebolang bersama, tidur bersama, maskeran bersama, main UNO bersama, sampe berantem lucu2an... 

Saudara… Selamat melanjutkan kembali langkahmu. Selamat berjumpa lagi di tangga kesuksesan di masa yang akan datang, dalam senyum yang lebih indah dan dalam pelukan waktu yang cukup lama, agar kita bisa kembali tertawa, mengingat kembali indahnya kebersamaan ini.





0 jejak yang berarti ^^:

Post a Comment