Saturday, 18 May 2013

Catatan Perjalanan: Menjelajah Dua Kota Impian (Part 1)

Bismillah


7 Mei 2013.

Dini hari sebelum matahari merangkak dari peraduannya, aku dan Papa sudah memelekkan mata. Bersiap-siap untuk sebuah perjalanan mendebarkan menuju dua tempat setelah Mekkah-Madinah yang ingin aku jejak di muka bumi ini: Desa Gading Mangu dan Kediri.

Tak hentinya hati ini dihujani rasa syukur pada Sang Maha Kuasa yang telah menyediakan perangkap manis ini. Akhirnya :’)

***

Kami tak akan tersesat untuk menemukan desa kecil cantik tujuan kami, sebab ada sebuah masjid besar dengan lima menara yang kokoh sebagai penandanya. Sebuah masjid besar yang [seolah] berada di tengah sawah.

Inilah masjid Luhur Nurhasan yang terletak di Desa Gading Mangu, Perak, Jombang, Jawa Timur. Dan di sebelahnya adalah SMP dan SMA Budi Utomo.


Saat masjid itu sudah mulai tampak dari kejauhan... sekali lagi hati berdebar-debar dan deru haru menyesak ingin keluar dari pelupuk mata. Masih saja ingin bertanya-tanya apakah ini mimpi atau nyata.

***

Desa Gading Mangu sungguh aneh. Deso tapi gaul. Ramaaai sekali. Di sana-sini anak sekolah atau anak pondok lalu-lalang dengan sepeda, motor, atau jalan kaki. Tapi ketika sudah waktu sholat dan ngaji...jalanan akan tampak lengang dan sunyi seolah desa ini tak berpenghuni. Desa Gading Mangu juga boleh dikata desa bermandikan masjid. Di setiap lorong pasti ada saja masjidnya. Maasyaa Allah. Sungguh hebat pembelaan jamaah di sini.

Tampak masjid Luhur Nurhasan Gading Mangu di malam hari. Lampu-lampunya menawan sekali...subhaanalloh >_<

Pilar-pilar cantik menopang kokoh. Eh setiap satu pintu seharga satu motor lho.

Tampak masjid bagian dalam.
***

Sebenarnya kedatanganku ke sini juga ingin berjumpa dengan saudari seiman yang sedang sekolah sekaligus mondok di sini, di Budi Utomo. Yang sangat kurindukan tangan lembutnya. Tangan lembut yang selalu menerbitkan sejumput semangat dalam setiap senti pertemuan.

Alhasil, aku berjalan menuju Pondok Putri sambil berharap bisa membuat sebuah kejutan menyenangkan untuknya.



Aku menyelundup masuk ke pondok putri tanpa mempedulikan reaksi anak-anak pondok. Sebenarnya tampak kontras karena saat itu mereka memakai seragam bagi yang masuk sekolah siang sementara aku hanya memakai baju biasa. Tiba-tiba...

“DISAAA....!!!”

Aku kenal suara itu. Tiba-tiba saja badanku sudah tenggelam dalam dekapannya.

“Ayu...!” teriakku sumringah.

“Disa...Kamu ngapain di sini? Gimana kabarnya Makassar? Eh-eh mau ketemu Anti yaa?”

“Iya, iya...amal sholeh panggilin dong.”

Ayu berseragam putih abu-abu ala Budi Utomo, bergegas menuju sebuah—entah apa namanya itu—yang jelas ada mikrofon kecilnya.

“Saudari Nur Hidayanti asal Makassar, saudari Nur Hidayanti asal Makassar, ditunggu saudarinya di bawah.”
...

“DISAAA....!!!”

Itu dia. Berwajah putih bersih dengan mata sipit hitam sedang tersenyum sumringah sambil memegang ember penuh berisi air dan pakaian. Aku berlari ke arahnya ingin memeluknya, lalu menjabat tangannya yang lembut---dan basah (T_T) . Aku menahan bulir-bulir haru yang mendesak ingin keluar lagi. Benar-benar tak percaya akhirnya bisa dipertemukan dengannya lagi.

Aku diajaknya jalan-jalan ke kamarnya di lorong paling ujung. Kamar sekecil itu isinya 20 orang lho...! (>_<)

Tak lama kemudian aku menculiknya dari Ibu pengurus pondok. Hahaha. Kami duduk-duduk sebentar di depan pondok putri sambil bertukar banyak cerita. Tentang Makassar, tentang perkembangannya di Budi Utomo, tentang target-target khataman hadistnya, tentang pondok, tentang makanan pondok, tentang air di pondok, wkwkwkwk.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kami. Rupanya Papa hendak mengajak kami jalan-jalan ke Pare, sebuah kampung Inggris di Kediri. Asyiiiiik.....!!!

***

Suasana deso lagi-lagi menggelitik kami. Uniknya, ini deso tapi ada tiga bahasa pokok yang digunakan penduduknya: Inggris, Indonesia, Jawa. Hm... Bahkan sampai tukang sayurnya pun ngomong Inggris lho!

Kebetulan seorang sepupu sedang menanti kami di sana. Aku memanggilnya Kak Dhea. Kami diajak keliling-keliling Pare dengan sepeda, tetapi aku dibonceng Anti. Angin sore membelai lembut jilbab-jilbab kami. Walau hanya sebentar di sana, tapi rasanya bahagiaaa sekali... (>_<)



Malam harinya Papa bertanya, "Kenapa belum tidur?"

"Gak tau Pa... Gak bisa tidur, saking senangnya bisa berada di sini."

~Alhamdulillahirobbil 'aalamiin~


5 comments:

  1. oleh-oleh <3 eh eh, ituu masjidnya Maasyaa Allaah ^^ super duper keren!!

    ReplyDelete
  2. kak.... telat (T__T)

    aku sudah pulang nih.

    ReplyDelete
  3. wah asyiik ya banget ya mbak kelihatannya ......

    ReplyDelete
    Replies
    1. jm mana mbak? njenengan belum pernah ke sana? ayo mbak kita sama-sama ke sana kapan-kapan... hehehhehe

      Delete
  4. ceritanya buat q merinding dech...... alhamdllhh JM

    ReplyDelete